Catatan Nuthayla Anwar (penyair dan dosen IAI Al Ghuraaba) *
TINEMU.COM- Kita suka merasa jenuh dengan buku sejarah yang kadang terasa kering, penuh deretan tahun dan nama-nama yang sukar diingat. Sejarah terasa seperti museum, penting tapi terasa dingin jika dikunjungi. Namun, ketika sejarah disajikan melalui media puisi, kepingan-kepingan peristiwa lampau terasa kembali hidup dan berdenyut.
Sila simak puisi-puisi dalam babak pertama buku ini, yang digelari, De Heeren Zeventien. Mulai puisi pertama hingga lima,"Wapen Van Holland" mengajak kita merasakan debar saat kapal-kapal VOC antara hidup dan mati diayun gelombang, kian mendekat, lalu mereka berteriak: Batavia kami datang .
Kita juga diajak mendengar dentang lonceng gereja yang bergema memanggil Tuhan, dari puisi ke enam hingga sebelas, sila dengar :
Arménische Kerk
: 1854-2011
,,Kita pengikoet Nabi Isa sang manoesia
Dia didjadikan toehan oleh sodara sodaranja.”
Djemaät kasih anggoekan
,,Pendéta, apakah dia orang Arménia?”
,,Djangan bertanja!”
Lalu, bau bir murah yang keluar dari mulut Sinyo di Stasiun Kemayoran,akan tercium dalam puisi ini. Sila simak :
Station Kemajoran
: 1715-2011
Seorang Sinjo Kemajoran mata mérah
Masoek ka stasion sembari marah marah
,,Jij poenja moeloet ada baoe bir moerah...”
Kepala Stasion kasih serapah
Dan, kita diminta waspada karena ternyata dari dulu di Stasiun Senen banyak copet dan tukang catut alias calo. Tergambar dalam puisi Station Passer Senen.
Aroma Batavia terhidu di kesemua puisi. CGR memahami cara kerja memori manusia: kita tidak mengingat fakta, kita mengingat perasaan. Memori kita tidak bekerja seperti ensiklopedia yang tertata rapi; ia bekerja seperti mosaik rasa, fragmen pengalaman yang terjalin melalui benang emosi.
Artikel Terkait
Instalasi Patung Kucing Syakieb dan Simbolisme Kota Jakarta
Buku 'The Jakarta Salon': Menyoroti Kiprah Kolektor dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia
'Graphic Memoir', Mengaduk Kenangan Lewat Sekuen Komik
'Wapen van Holland': Dari Sebuah Kapal sampai ke Simbol