PRO-GRESS: Menolak Diam Merayakan Gerak, Neo Gallery 5 Juli 2025

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Minggu, 29 Juni 2025 | 14:47 WIB
Lukisan Karya Syakieb Sungkar: “Bahkan Bidadari pun Telah Bosan dengan Barang Mewah”, 160 X 200 cm, oil on canvas, 2025.
Lukisan Karya Syakieb Sungkar: “Bahkan Bidadari pun Telah Bosan dengan Barang Mewah”, 160 X 200 cm, oil on canvas, 2025.

TINEMU.COM - Barangkali kita sudah terlalu sering mengira bahwa seni itu kontemplatif, penuh renung dan diam, serupa kucing tua di jendela sore. Padahal, siapa bilang seniman harus duduk manis memandangi langit sambil menunggu ilham jatuh?

Pameran "PRO-GRESS" yang bakal dihelat 5 Juli itu, justru ingin menampik mitos itu. Di sini bisa jadi, diam bukanlah sekadar kebajikan. Gerak adalah kredo. Maju adalah napas.

Dalam pameran ini, kemajuan bukan hanya kata sifat yang cocok dipakai di rapat Kementerian, tapi sebuah keputusan eksistensial: mendukung yang bergerak. "PRO-GRESS" menyajikan karya-karya yang menolak tumpul dan tawar, dari tangan-tangan yang tak percaya pada kebekuan dan stagnan.

Baca Juga: Buku 'The Jakarta Salon': Menyoroti Kiprah Kolektor dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia

Benny Raharjo, Chusin Setiadikara, Inda C. Noerhadi, Iryanto Hadi, Joni Ramlan, P. Lanny Andriani, Siont Teja, Syakieb Sungkar, Tommy F. Awuy, dan Widya Triyana adalah nama-nama yang tidak sedang bermain teka-teki. Mereka bicara dalam garis, warna, dan bentuk—dan yang mereka ucapkan adalah: kami tidak tinggal diam.

Tentu saja, kemajuan bukan selalu perihal mesin dan megaproyek. Kadang, ia hadir dalam goresan yang menyuarakan luka. Kadang, dalam rupa yang mempertanyakan arah. Di tangan para seniman ini, progres bukan slogan, tapi laku: upaya untuk menggerakkan—pikiran, rasa, bahkan mungkin negara.

Agus Dermawan T., yang menulis untuk pameran ini, tidak hadir sebagai juru tafsir yang memaksa. Ia lebih mirip tukang pukul halus: menggoyang persepsi, menyodok kenyamanan, dan menantang kita untuk tidak puas hanya dengan “menikmati” lukisan. Sebab lukisan di sini bukan untuk dinikmati seperti kudapan galeri, melainkan untuk dikunyah seperti pernyataan yang getir: bahwa diam bukan jawaban.

Jadi, bila Sabtu 5 Juli nanti Anda merasa langkah Anda ke Neo Gallery di Tanah Abang IV No. 25 agak lebih ringan dari biasa, bisa jadi itu karena ada semacam daya tarik dari karya yang sedang bergerak—dan menolak Anda tetap di tempat.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X