MOCA Singapura Gelar ‘A Path to Glory’: Legenda Sastra Silat dan Patung Kontemporer

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Jumat, 4 Juli 2025 | 09:56 WIB
Suasana Ruang pamer di Moca Singapura
Suasana Ruang pamer di Moca Singapura

TINEMU.COM - MOCA Singapura menampilkan pameran unik. Sebuah tafsiran visual silat Tiongkok kuno yang berpusat pada petualangan para pendekar, seni bela diri dan elemen kisah fantastis di tangan pematung Ren Zhe. Ren Zhe piawai mewujudkan seni beladiri Wuxia dalam puluhan novel karya sastrawan Cersil (Cerita Silat) Jin Yong, ditransformasikan dalam karya bermateri stainless steel.  

William Wong, Kurator muda yang mengamati pematung Ren Zhe dalam mempresentasikan pamerannya bertajuk A Path to Glory di Singapura mengatakan Ren Zhe perupa yang menakjubkan.

“Ia pematung yang mampu dengan cakap menafsirkan ulang kepiawaian penulisan sastra Jin Yong. Ren Zhe mengimajinasikan tokoh-tokoh novel keluar dari teks tulis dan menyajikannya di hadapan kita, seolah-olah mereka—para pendekar seni bela diri yang dikenal di Tiongkok dengan Wu Xia itu melampaui fiksi,” ujar Wong, dalam rilis MOCA Singapura awal Juli ini.

Baca Juga: NEO Gallery Gelar Pameran “ProGress”: Sebuah Perayaan Gerak, Gagasan dan Keberanian Artistik

Kisah-kisah yang ditulis sastrawan Jin Yong, mengingatkan pada serial TV Condor Heroes di Tanah Air dari tahun 80-an, yang juga tenar dengan novelnya tentang Pendekar Pemanah Rajawali. Pameran Ren Zhe, memang konsisten mengambil inspirasi dari budaya tradisional dan secara inovatif memadukan estetika Timur dengan perspektif kontemporer. Ia memadukan secara harmonis formasi artistik yang kuat dari setiap tokoh dengan esensi sastra Jin Yong.

Sementara itu, President MOCA (Museum of Contemporary Art), Linda Ma mengakui bahwa sebagai generasi ketiga peranakan Tionghoa di Indonesia, ia tumbuh besar dengan membaca novel-novel seni beladiri Wuxia.

“MOCA Singapura mendapatkan kehormatan besar bisa mewujudkan pameran di Singapura dengan menampilkan lebih dari 40 patung berskala besar di satu ruang museum. Sebuah kerja menantang namun menggembirakan, yang saya yakini akan menghadirkan pengalaman budaya yang belum pernah ada sebelumnya bagi masyarakat Singapura” imbuh Linda Ma bersemangat.

Baca Juga: Benny Raharjo: Kritik Sosial dalam Kardus dan Karung Goni, Ajang ProGress di Neo Gallery 5 - 25 Juli 2025

Karya-karya pematung Ren Zhe menghidupkan ulang relasi sastra Jin Yong dengan Kota Singa, dengan memelihara benih Nanyang yang ditabur puluhan tahun lalu lewat bahasa seni rupa sekaligus menikmati cara unik memadukan seni dan cagar budaya khas kultur Tiong Hwa. ***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X