TINEMU.COM - Di dunia seni rupa kontemporer Indonesia, nama Benny Raharjo mungkin terdengar sebagai sosok yang lintas batas. Ia bukan hanya perupa, tapi juga arsitek, pengusaha, kolektor, sekaligus pemilik Neo Gallery—ruang seni yang ia dirikan dengan semangat membangun dialog antara seni, masyarakat, dan ruang hidup.
Namun, di balik perannya yang berlapis itu, karya-karyanya sendiri menawarkan lapisan lain: sebuah kritik sosial yang halus namun tajam, terbungkus dalam medium yang tak lazim seperti kardus bekas dan karung goni.
Gagasan artistik Benny Raharjo bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Benihnya tertanam sejak masa kuliahnya di jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara, Jakarta. Sebagai mahasiswa arsitektur, ia bersama kawan-kawan sering melakukan survei lapangan ke berbagai sudut kota, mengamati bangunan-bangunan tinggi yang menjulang megah, simbol modernitas dan perkembangan ekonomi ibu kota.
Baca Juga: Heart of Darkness, Novel dengan Isu Kolonialisme, Kemanusiaan, Krisis Moral, dan Kerusakan Ekologi
Namun, dalam perjalanan itu pula mata mereka tak jarang menangkap kontras yang mencolok: wilayah-wilayah kumuh di balik gedung-gedung pencakar langit, rumah-rumah reyot yang terselip di lorong-lorong sempit, yang secara kasat mata jauh dari kata layak sebagai tempat tinggal.
Pengalaman itu meninggalkan jejak dalam benak Benny. Ia menyaksikan paradoks kota: kemegahan di satu sisi, keterpinggiran di sisi lain. Ketika akhirnya ia memilih jalan seni, ingatan tentang rumah-rumah tak layak huni itu kembali sebagai sebuah panggilan.
Ia menemukan medium ekspresi yang sederhana namun sarat makna—kardus bekas dan karung goni. Dua bahan ini, yang sering dipandang remeh dan identik dengan kemiskinan, ia olah menjadi karya seni yang unik, artistik, dan mengundang perenungan. Di tangan Benny, kardus-kardus yang biasa dipakai membungkus barang sekali pakai menjadi miniatur bangunan, maket-maket kecil yang seolah menghidupkan kembali rumah-rumah reyot yang pernah ia lihat.
Baca Juga: The Catcher in the Rye, Novel yang Menangkap Pikiran dan Perasaan Remaja
Ada keapikan yang disengaja dalam penyusunan potongan kardus itu—dinding-dinding yang tidak rata, atap yang miring, tekstur kasar dari karung goni yang membalut sebagian struktur—semuanya menjadi metafora tentang kehidupan masyarakat miskin kota yang rapuh namun tetap bertahan.
Lukisan-lukisan dan instalasi Benny yang kini dipamerkan dalam ajang Pro-Gress di Neo Gallery (5 Juli – 25 Juli 2025) bukan hanya sebuah eksperimen estetik. Mereka adalah pernyataan politik yang subtil, sebuah pengingat bagi pemerintah dan publik akan kebutuhan mendesak untuk menyediakan hunian yang lebih manusiawi bagi mereka yang termarginalisasi.
Alih-alih menggurui atau menghardik, karya-karya itu berbicara dalam bahasa visual yang lembut namun menggugah, memancing empati dan kesadaran sosial.
Benny juga tampaknya ingin mengajak kita merefleksikan nilai dari “bahan bekas” dalam kehidupan. Kardus dan karung goni, yang biasa berakhir di tempat sampah, ia angkat martabatnya sebagai bagian dari seni. Di sini ada semacam filosofi tentang keberlanjutan—baik dalam konteks material maupun dalam konteks kehidupan sosial. Bukankah kehidupan di kota besar sering memperlakukan manusia layaknya barang: dipakai, dimanfaatkan, lalu dibuang ketika tak lagi produktif?
Melalui karya-karyanya, Benny Raharjo seolah membisikkan pertanyaan kepada kita semua: jika kardus bekas saja bisa diolah menjadi sesuatu yang indah, mengapa kita tidak bisa memperlakukan manusia yang tersisih dengan lebih baik?
Baca Juga: Kefanaan, Ruang Batin yang Sunyi dari Widya Triana dalam Pameran ProGress di Neo Gallery
Pameran Pro-Gress di Neo Gallery menjadi ruang di mana estetika bertemu etika, seni bertemu kepedulian sosial. Setiap karya Benny bukan hanya untuk dinikmati mata, tetapi juga untuk merangsang hati dan pikiran. Ia mengundang kita melihat kembali kota yang kita tinggali, dengan segala gemerlap dan bayang-bayangnya, serta mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya milik mereka yang tinggal di gedung-gedung tinggi, tetapi juga mereka yang masih berjuang di rumah-rumah kardus di sudut-sudut kota.***
Artikel Terkait
PRO-GRESS: Dalam Seni yang Menolak Dingin, Merayakan Gerak
PRO-GRESS: Gerak Seni yang Tak Diam dan Tak Gentar
MOCA Singapura Gelar ‘A Path to Glory’: Legenda Sastra Silat dan Patung Kontemporer
NEO Gallery Gelar Pameran “ProGress”: Sebuah Perayaan Gerak, Gagasan dan Keberanian Artistik