NEO Gallery Gelar Pameran “ProGress”: Sebuah Perayaan Gerak, Gagasan dan Keberanian Artistik

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Sabtu, 5 Juli 2025 | 21:14 WIB
Benny Raharjo seorang insinyur arsitek di depan karyanya
Benny Raharjo seorang insinyur arsitek di depan karyanya

TINEMU.COM - NEO Gallery dengan bangga menghadirkan ProGress, sebuah pameran seni rupa yang menampilkan 67 karya dari sepuluh perupa lintas generasi: Benny Raharjo, Chusin Setiadikara, Inda C. Noerhadi, Iryanto Hadi, Joni Ramlan, P. Lanny Andriani, Siont Teja, Syakieb Sungkar, Tommy F Awuy, dan Widya Triyana.

Pameran ini berlangsung mulai 5 hingga 25 Juli 2025 di NEO Gallery, dan terbuka secara gratis untuk umum. Naskah pengantar pameran ditulis oleh kritikus dan penulis seni terkemuka, Agus Dermawan T.

Mengambil tajuk ProGress—yang secara harfiah berarti “kemajuan” atau “bergerak maju”—pameran ini menyuarakan semangat untuk mendukung gerak, perubahan, dan eksplorasi dalam praktik seni.

“Melalui ProGress, kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar pameran. Ini adalah ajakan untuk melihat bahwa seni selalu hidup, terus bergerak, dan menyuarakan perubahan. Setiap karya di sini adalah langkah dan keberanian untuk terus maju di tengah dunia yang terus berubah. NEO Gallery akan terus menjadi ruang yang merayakan keberanian itu,” ujar Stefanus Randy Raharjo, Direktur Neo Gallery.

Setiap karya dalam pameran ini merupakan bagian dari perjalanan artistik yang tak pernah statis. Misalnya, Benny Oenardi Raharjo—seniman kelahiran Solo, 1961—membawa latar belakangnya sebagai arsitek, penari, dan pengusaha properti ke dalam karya berbasis diorama.

Ia membangun rumah-rumah rakyat kecil dari kepingan kardus, goni, dan bilah kayu, menjadikannya maket dua setengah dimensi yang bukan hanya struktural namun juga estetik. Karyanya merefleksikan kepekaan sosial dan empati terhadap kehidupan wong cilik yang termarjinalkan.

Sementara itu, Chusin Setiadikara—pelukis kelahiran Bandung, 1949—dikenal luas berkat karya hiper- realistisnya yang monumental, seperti lukisan pasar Bali yang penuh figur dan nuansa humanistik. Namun dalam ProGress, Chusin membuat kejutan dengan lukisan abstraknya yang ekspresif.

Sikat kuas basah dan kering ia mainkan secara spontan dan intuitif, menghasilkan karya yang penuh gerak dan harmoni. Dalam lukisan ini, ia menunjukkan bahwa seorang seniman besar tak pernah puas berada di zona nyaman.

Melalui ProGress, Neo Gallery membuka ruang dialog antara seniman dan publik tentang bagaimana proses kreatif adalah perjalanan yang dinamis—menelusuri kemungkinan baru, menantang batas lama, dan memaknai ulang pengalaman visual. Pameran ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang Neo Gallery untuk merayakan praktik seni rupa kontemporer Indonesia yang berpijak kuat sekaligus berani melangkah maju.***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X