Garden of Dreams di Meiro Gallery: Taman Imaji yang Menyulam Mimpi dari 6 Negara

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Selasa, 8 Juli 2025 | 20:07 WIB
Kenny Yustana founder Meiro Collection di depan karya Silvia Tampi, Jakarta dan Ndikol dari Jogja.
Kenny Yustana founder Meiro Collection di depan karya Silvia Tampi, Jakarta dan Ndikol dari Jogja.

TINEMU.COM - Di Meiro Gallery lantai 2 Ramuza Art Hub Menteng - Jakarta, mimpi-mimpi sedang tumbuh. Bukan dalam bentuk kata-kata yang mengawang atau janji-janji yang memudar, tetapi dalam wujud nyata: lukisan, patung, instalasi, dan objek yang seolah berbisik kepada pengunjungnya.

Garden of Dreams, pameran kelompok terbaru dari Meiro Gallery yang berlangsung dari 28 Juni hingga 31 Juli 2025, bukan sekadar perayaan seni. Ia adalah sebuah undangan untuk menjejakkan kaki ke dalam taman imajinasi, di mana setiap langkah membawa kita lebih dekat pada batas samar antara sadar dan bawah sadar.

Sementara itu Kenny Yustana founder Meiro Gallery memilih banyak karya Art Toys untuk Garden of Dreams karena baginya art toys adalah simbol mimpi masa kecil yang rapuh namun penuh harapan. Ia ingin menghadirkan nostalgia dan kehangatan, sekaligus mengajak pengunjung menyelami dunia imaji yang lembut, personal, dan tak terbatas.

Baca Juga: Willy Dozan dari Kungfu Pernah jadi Petinju! Kok Bisa?

Tiga belas seniman lintas disiplin dari enam negara hadir membawa fragmen dunia batin mereka. Dari Thailand hadir El El Elpis, iGuyy, Jane Kibari, Kung Sholl, Roya Kanok, dan waniwani.

Dari Indonesia, Ndikol, Rizal Ulum, dan Silvia Tampi. Sementara itu Eury Kim dari Korea Selatan, Poyun Wang dari Taiwan, Klaris dari Filipina, dan Little Poupees dari Malaysia melengkapi keberagaman suara dalam pameran ini. Mereka adalah pelukis, pematung, dan desainer mainan yang menjahitkan benang halus antara teknik, medium, dan narasi pribadi ke dalam kanvas kolektif pameran.

Pengunjung menikmati karya para perupa di Meiro Collection
Pengunjung menikmati karya para perupa di Meiro Collection

Gagasan besar di balik Garden of Dreams sederhana namun menggugah: setiap mimpi, seperti taman, berawal dari benih kecil. Benih itu tertanam dalam pikiran, disirami keyakinan, dipupuk harapan, dan diuji ketekunan, hingga pada akhirnya mekar menjadi karya.

Baca Juga: Single Terbaru Sammy Simorangkir Kali Ini Upbeat Lho!

Di sini, pengunjung diajak tidak sekadar melihat seni, tetapi juga merasakannya—berhenti sejenak di antara instalasi, mendengarkan kesunyian yang pekat namun penuh gema, dan menyelami makna di balik setiap fragmen mimpi yang dipamerkan.

Salah satu keistimewaan pameran ini terletak pada keberaniannya membebaskan diri dari batasan medium. Tidak ada definisi tunggal tentang apa itu seni di sini. Instalasi yang terasa nyaris seperti mimpi buruk berdiri berdampingan dengan figur mainan mungil yang memancarkan kehangatan masa kanak-kanak. Setiap karya adalah potongan puzzle dari taman yang lebih besar, taman yang luasnya tak terbatas oleh dinding galeri. Imajinasi mengalir bebas, membentuk jalur-jalur tak terduga yang bisa dilalui pengunjung sesuka hati.

Bagi sebagian seniman, ini adalah debut pertama mereka di Indonesia. Bagi yang lain, seperti beberapa peserta pameran Untold Stories (Maret–April 2025), ini adalah sebuah kepulangan. Tapi semua hadir dengan semangat yang sama: menghadirkan ruang di mana mimpi bisa hidup tanpa terikat logika linear atau narasi tunggal.

Kenny Yustana founder Meiro Collection di depan karya Rizal ulum, Kudus.
Kenny Yustana founder Meiro Collection di depan karya Rizal ulum, Kudus.

Baca Juga: StarBe Rilis Single 'Berikan yang Terbaik' Perkenalan Menuju Album Keduanya

Garden of Dreams tak ubahnya sebuah oase dalam hiruk-pikuk kota. Atmosfernya sarat keajaiban, seperti memasuki dunia lain di mana waktu melambat. Di sini, kita diajak berjalan perlahan, menyusuri jalur yang dipenuhi simbol dan metafora, seolah setiap sudut taman menyimpan pesan tersembunyi.

Barangkali itu adalah pesan tentang keberanian untuk bermimpi kembali—sebuah ajakan yang terasa relevan di masa ketika mimpi sering dianggap sebagai kemewahan. Meiro Gallery berhasil mengkurasi pengalaman yang bukan hanya visual, tetapi juga emosional. Setiap karya menjadi percikan dialog antara seniman dan penonton, antara dunia luar dan dunia batin.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X