Kini, lebih dari seribu tahun sejak batu pertama diletakkan, kita hidup di dunia yang jauh berbeda dari para citralekha pendahulu. Namun, pesan mereka tetap relevan. Tentang keselarasan. Tentang budi. Tentang pentingnya menghidupkan kembali hubungan antara manusia dan semesta.
Borobudur bukan hanya warisan budaya yang dilindungi UNESCO. Ia adalah warisan kesadaran. Bila dunia hari ini diliputi ketegangan, kerusakan alam, dan kekacauan batin, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar teknologi canggih, melainkan kembali ke Buddhi—kembali ke budi pekerti dan keselarasan hidup.
Kita yang Meneruskan
Sebagaimana yang ditulis dalam narasi pembuka: “Sungguh hari ini memang tumbuh dari masamu, tangan kami yang meneruskan…”
Kitalah yang kini mewarisi ajaran yang ditorehkan di batu-batu itu. Kitalah yang akan memilih, apakah Borobudur hanya akan menjadi latar swafoto, atau menjadi cermin tempat kita menatap ke dalam diri.
Satu langkah Pradaksina, satu mudra yang kita tiru, satu napas yang kita sadari, bisa menjadi jembatan kecil untuk menyambungkan kita dengan suara para leluhur. Suara yang berkata: jangan lupa dari mana kamu datang, dan ke mana kamu menuju.***
Artikel Terkait
Siap Tayang 11 Juli, Ini Dia 'Orang Ikan' Film Monster Buatan Indonesia!
Borobudur Meledak di Kanvas Sohieb: 9 Karya Dahsyat Digelar di Tugu Kunstkring Paleis
Kementerian Pariwisata Dukung Geopark Kaldera Toba Raih Kembali Green Card UNESCO
Umumkan Pemenang ROCKGENERASI Fest & Competition 2025 Sukses Guncang Madiun