TINEMU.COM - Bagi Syiska Diranti Ventia, dunia seni selalu menjadi semacam “rumah” yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Sejak kecil, ia telah menemukan kebahagiaan di studio seni dan kelas melukis di Bintang Merah.
Namun, seperti banyak cerita hidup lainnya, arus kehidupan membawanya ke jalur berbeda; berkarier di perbankan, jauh dari kanvas dan aroma cat yang akrab di masa kecilnya.
Meski demikian, cinta pada seni tak pernah redup. Dalam kesibukan profesionalnya, Syiska merasakan ada ruang batin yang perlu diisi—ruang yang hanya bisa dijangkau oleh sapuan kuas. Ia pun memilih keluar dari zona nyaman dan berguru pada Mas Agus Budiyanto. Dari sang mentor,
Syiska belajar bahwa melukis bukan sekadar menguasai teknik, melainkan menemukan bahasa untuk bicara pada dunia, bahkan ketika kata-kata tak memadai.
Bagi Syiska, melukis dengan cat air adalah meditasi. Setiap sapuan kuas adalah tarikan napas panjang yang melepaskan penat, setiap tetes pigmen adalah kisah yang menunggu untuk diceritakan.
Aliran air di atas kertas Fabriano, berpadu warna demi warna, berubah menjadi pintu menuju kedamaian dan ruang eksplorasi diri tanpa batas. “Saya berbicara melalui warna dan bentuk ketika kata-kata tidak dapat diungkapkan,” ujarnya.
Dalam dua tahun terakhir, Syiska produktif mencipta. Deretan karyanya di tahun 2024–2025 mencerminkan perjalanan batin sekaligus keberanian menjelajah tema-tema di luar konvensi. Salah satunya, “Sileo Ergo Vivo”: Aku diam, maka aku hidup (2025), dipilih untuk tampil di booth Komunitas ABAS pada ajang Art Moments 2025.
Judul-judul karyanya seperti Stay With Me, Infinite Wonder, Where the Mind Swims Free, hingga Be the Color in the Rain adalah serpihan narasi yang merangkai peta perjalanannya—dari pencarian, keterhubungan, hingga kebebasan.
Syiska tak berjalan sendiri. Ia adalah bagian dari Komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS), sebuah ruang kreatif yang telah berkiprah selama 25 tahun, menampung beragam latar belakang anggotanya—arsitek, desainer, bankir, profesional—semua dipersatukan oleh medium yang sama: cat air. ABAS bukan hanya tempat belajar teknik, tapi juga ekosistem dukungan yang saling menguatkan.
Di bawah arahan Agus Budiyanto, ABAS menanamkan falsafah sederhana namun penting: Be Yourself. Setiap seniman dibimbing bukan untuk meniru, melainkan menemukan karakter masing-masing. Agus mengingatkan bahwa seniman perlu cerdas mengatur waktu dan strategi.
Karya tidak selalu dibuat untuk pameran; ada pula yang lahir sebagai elemen estetis untuk ruang interior, atau sebagai hasil kolaborasi dan komisi khusus. “Selalu ada solusi untuk berkarya, bahkan ketika pasar sedang lesu,” tegas Agus.
Tahun ini, ABAS dipercaya tampil di Art Moments 2025, sebuah pameran berskala internasional yang menghadirkan 60 galeri seni dan lebih dari 600 seniman. Dengan tema Restoration, ajang ini mengajak publik untuk meninjau kembali relasi dengan alam, manusia, dan sesama makhluk hidup.
ABAS berpartisipasi bukan hanya lewat pameran, tapi juga dengan sesi Wicara Seni bertajuk Art & Finance: Building Financial Sustainability for Creative Minds, menghadirkan perspektif seniman, kolektor, dan bankir—sebuah kombinasi yang jarang disandingkan, namun sangat relevan.
Di booth ABAS, para pengunjung disuguhi teknik basah dan kering cat air, menampilkan keberagaman topik dan pendekatan dari para anggota. Ada karya-karya Aviliani, Basrie Kamba, Chesna Anwar, Didit Maya Paksi, hingga Syiska sendiri. Masing-masing membawa dunia pribadi yang dituangkan ke atas kertas, namun tetap saling terhubung dalam semangat komunitas.