Kisah Syiska adalah pengingat bahwa seni selalu menemukan jalannya kembali ke mereka yang mencintainya. Ia mungkin sempat menjauh, tapi sapuan kuas selalu memanggil pulang. Lewat warna dan air, ia kembali membangun rumah yang pernah ia tinggalkan—rumah yang kali ini tak hanya menjadi tempat perlindungan, tetapi juga sumber keberanian untuk bermimpi.
Dan di antara riuhnya Art Moments, di tengah deretan karya dan percakapan seni, barangkali seseorang akan berhenti di depan ”Sileo Ergo Vivo”. Dalam cat air puitis ini, Syiska Diranti Ventia mengeksplorasi keheningan bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai kehadiran. Sileo yang terbentuk dari tekstur yang mengalir dan hening ini mencerminkan dunia batin di mana keheningan menjadi kekuatan.
“Sileo Ergo Vivo” - Aku diam, maka aku hidup - adalah pengingat lembut bahwa dalam keheningan, kita terhubung kembali dengan apa yang sesungguhnya hidup di dalam diri kita, dan merasakan getaran yang sama seperti yang dirasakan Syiska ketika melukisnya: sebuah percakapan tanpa kata, tapi penuh makna.***