Mainan, Patung, atau Ibadah Pop? KAWS Menggoda Publik Jakarta di Meiro Gallery

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Selasa, 9 September 2025 | 19:05 WIB
Puluhan patung KAWS  berbagai ekspresi terpajang di MEIRO Gallery
Puluhan patung KAWS berbagai ekspresi terpajang di MEIRO Gallery

Antara Nilai Seni dan Nilai Pasar

Karya KAWS bukan hanya memikat mata, tetapi juga pasar. Menurut Artnet, harga karyanya meroket drastis pada akhir 2010-an. Tahun 2017, harga rata-rata di lelang tembus $80 ribu, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Tahun berikutnya, lima karyanya menembus angka $1 juta, dengan total penjualan $33,8 juta.

Puncaknya pada 2019, ketika nilai lelangnya mendekati $40 juta. Meski setelahnya turun, nama KAWS tetap termasuk yang paling dicari di dunia seni kontemporer. Popularitasnya di Instagram memperkuat posisi itu—lebih dari 1,8 juta unggahan dengan tagar #kaws, mengalahkan Jeff Koons maupun Damien Hirst.

Jejak di Antara Basquiat, Haring, dan Warhol

KAWS sering disamakan dengan Jean-Michel Basquiat dan Keith Haring, sama-sama lahir dari jalanan New York. Dari segi seni populer, ia disejajarkan dengan Andy Warhol dan Jeff Koons.

Kurator Michael Auping bahkan menyebut KAWS sebagai “mimpi terburuk Clement Greenberg”, kritikus modernis yang alergi pada percampuran seni tinggi dan rendah. Tetapi justru di situlah daya tariknya: KAWS berani mengaburkan batas antara patung monumental dengan karakter kartun.

Snoopy, Simpsons, bahkan SpongeBob—semuanya pernah diolah dengan mata silang khas KAWS. Tidak ada hierarki; semua ikon pop bisa menjadi bahan seni.

Dari Museum ke Fortnite

Transformasi KAWS tak berhenti di galeri. Ia menembus museum besar: Brooklyn Museum, Yorkshire Sculpture Park, hingga National Gallery of Victoria. Pada 2022, pameran tunggalnya di Serpentine Gallery, London, diadaptasi menjadi peta dalam gim Fortnite—dan menjadikannya pameran seni dengan jumlah pengunjung terbanyak sepanjang sejarah.

Seni KAWS bukan hanya untuk dipajang, tapi untuk dimainkan, dibagikan, dan dihidupi lintas medium.

Foto dok MEIRO Gallery
Foto dok MEIRO Gallery

Kolaborasi Lintas Dunia

Selain patung dan instalasi, KAWS kerap berkolaborasi dengan dunia mode. Ia pernah mendirikan label Original Fake, lalu menggandeng brand seperti Bathing Ape, The North Face, dan Supreme.

Momen paling ikonik muncul pada Paris Fashion Week 2019, ketika desainer Kim Jones menghadirkan patung bunga merah muda setinggi 10 meter bergaya “BFF” KAWS sebagai latar peragaan busana Dior. Dior Bee bahkan mendapat sentuhan ulang KAWS, diproduksi ulang dalam bentuk mainan edisi terbatas.

Di titik ini, seni KAWS hidup tidak hanya di museum, tapi juga di lemari pakaian dan feed Instagram para penggemarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X