TINEMU.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra bersama Universitas Udayana menggelar International Kawi Culture Festival di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana pada 24-27 Agustus 2023.
International Kawi Culture Festival yang mengusung tema "Budaya Kawi: Melepas Sekat, Memperluas Jarak, Meniti Puncak," ini menghadirkan peserta dari berbagai disiplin ilmu.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra, Herry Yogaswara menyampaikan bahwa International Kawi Culture Festival merupakan inisiasi dari komunitas yang fokus pada kebudayaan Kawi.
Baca Juga: Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau 140 Tahun Lalu, 30 Ribu Kali Ledakan Bom Atom Hiroshima
Menurut Herry riset dalam kebudayaan Kawi, tercakup penelitian tentang kajian Jawa kuno, epigrafi hingga naskah, oleh sebab itu penggunaan istilah "culture" mengandung makna yang komprehensif.
Keterlibatan BRIN dalam hal ini karena periset BRIN melakukan kegiatan penelitian terkait dengan kebudayaan Kawi, termasuk penelitian tentang naskah, tulisan, epigrafi, dan lainnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam komunitas, kehidupan dari sebuah kegiatan itu betul-betul berdenyut. "Ketika membicarakan masyarakat Kawi, kita berbicara tentang individu-individu yang tengah terlibat dalam pengembangan budaya Kawi. Hal tersebut menjadi prioritas saya," ungkap Herry.
Baca Juga: Naik LRT Jabodebek Bersama Presiden Jokowi, Ini Kesan Para Menteri
International Kawi Culture Festival dihadiri puluhan penggiat kebudayaan Kawi dan pakar-pakar budaya Kawi yang akan mempresentasikan hasil kajian kebudayaan Kawi yang tidak hanya sebatas bahasa dan sastra, tetapi kebudayaan dalam arti luas dan juga ragam teknologi yang mendukung riset material budaya Kawi.
Seperti yang diungkapkan Ketua Panitia Kawi Society, Aditia Guawan, mereka mencoba memahami budaya Kawi dalam konteks yang menyeluruh, tidak terbatas pada lingustik, etnik atau batas negara.
“Kami percaya bahwa budaya Kawi dapat lebih termaknai melalui kolaborasi lintas disiplin dan praktik seperti filologi, paleografi, arkeologi, epigrafi, sejarah, sejarah seni, sastra, lingustik, kajian agama, kajian artefak, konservasi, digital humanities, pertunjukan, dan banyak lagi bidang lainnya,” tuturnya.
Baca Juga: Lengkapi Moda Transportasi Massal, Presiden Jokowi Resmikan LRT Jabodebek
Pada kesempatan lain, Sofwan Noerwidi Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN menyampaikan terdapat dua hal yang dapat dilakukan untuk mengkaji material budaya Kawi, yaitu riset dan konservasi. Dalam hal riset yang dapat yang diteliti diantaranya karakterisasi bahan atau media dalam penulisan sastra Kawi.
Salah satunya melalui teknik Non Destructive Tomography (NDT) periset dapat meneliti karekterisasi bahan untuk membuat manuskrip Kawi tanpa merusaknya. "Tentunya dengan teknik NDT, misalnya manuskrip Kawi yang sulit dibuka, karena lembab atau rapuh, dengan bantuan teknologi, isi dari manuskrip tersebut dapat terbaca," ungkap sofwan
Artikel Terkait
Pendaftaran Dana Indonesiana 2023 untuk Pelaku Budaya Telah Dibuka
Kota Surakarta Jadi Tuan Rumah Festival Budaya Spiritual 2023 Bertema ‘Rembug Sedulur Sepuh’
Sajikan Konten Budaya, Indonesiana TV Perluas Jangkauan Penonton
Kentalnya Budaya di Desa Wisata Tebara Bikin Semangat Membara untuk Berwisata
Tiga Begawan Budaya Terima Gelar Tanda Kehormatan dari Presiden RI