temu-serasi

Peneliti BRIN Kaji Cerita Lisan di Alor dan Toleransi Beragama di Era Majapahit

Rabu, 26 Februari 2025 | 08:56 WIB
Ilustrasi naskah kuno (Meta AI)

TINEMU.COM - Cerita lisan di Alor berfungsi bukan dari sekadar hiburan. Dalam banyak hal, cerita ini menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai sosial dan menguatkan identitas budaya.

Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sastri Sunarti menyampaikan hal tersebut dalam konferensi internasional preservasi bahasa dan sastra, di Jakarta, pada Kamis, 20 Februari 2025.

Sastri menyampaikan hasil risetnya tentang etiology story sebagai pelestarian pengetahuan dan sejarah lisan pada suku bangsa di Alor, Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga: 'Jagal Teluh' Tawarkan Asmara dan Balas Dendam Siap Tayang 27 Februari 2025!

Salah satu contoh menarik yakni cerita asal-usul dari suku Abui di Takpala, yang menyebutkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari langit. Kesamaan pola cerita antara suku-suku di wilayah tersebut dapat ditemukan di banyak budaya di Indonesia Timur.

“Cerita-cerita tersebut juga menjadi legitimasi bagi suku-suku di Alor untuk memperoleh hak atas tanah dan ladang mereka. Dalam tradisi adat, cerita lisan ini memperjelas hubungan antar suku serta menentukan siapa yang berhak menjadi kepala suku atau mengelola wilayah tertentu,” urai Sastri.

Sastri mengungkapkan bahwa penelitiannya menjadi medium untuk melestarikan pengetahuan terkait migrasi suku, perubahan lingkungan, dan bahkan tata cara pernikahan yang dihormati dalam adat.

Baca Juga: Sonic/Panic Jakarta Suarakan Isu Lingkungan dan Solidaritas #IndonesiaGelap

Contohnya, cerita dari Pulau Pura yang mengisahkan perpindahan suku dari daerah pegunungan ke pantai yang lebih mudah diakses. Ini mencerminkan kebutuhan praktis masyarakat dalam menghadapi tantangan alam.

Selain cerita, pengetahuan juga dilestarikan dalam bentuk ritual adat dan tarian. Seperti tarian Lego-Lego, yang sering dipentaskan dalam upacara adat. Tujuannya sebagai cara untuk mengenang sejarah leluhur dan mengajarkan nilai-nilai kepada generasi muda.

“Pada intinya, melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana masyarakat Alor memanfaatkan cerita lisan, untuk melestarikan pengetahuan dan mempererat ikatan budaya mereka,” pungkasnya.

Baca Juga: Digitalisasi Naskah Lontar, Upaya Selamatkan Warisan Budaya yang Rentan Alami Kerusakan

Toleransi Beragama di Era Majapahit

Sementara itu, Peneliti PR MLTL BRIN, Mu'jizah, menjelaskan risetnya tentang toleransi beragama di era Majapahit, yakni tentang Tripaksa dalam tiga naskah penting asal Jawa Timur.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB