Satu hal yang ia tonjolkan yakni Majapahit sebagai kerajaan besar yang memiliki wilayah kekuasaan luas, dengan tiga konstruksi utama yang menopang kejayaannya. Salah satu faktor utamanya adalah toleransi beragama.
“Berdasarkan tiga naskah utama, yaitu Sutasoma, Pararaton, dan Negarakertagama, kita dapat melihat bagaimana toleransi beragama menjadi landasan penting dalam kejayaan Majapahit,” jelasnya.
Baca Juga: Alex Teh Rilis Single 'five' sebagai Simbol Kedewasaan
Majapahit memiliki sistem kekuasaan yang luas, tidak hanya di Nusantara tetapi juga menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Asia melalui konsep Mitreka Satata.
Konsep ini menggambarkan hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan tetangga di Asia Tenggara, termasuk Tiongkok, Kamboja, Siam, Burma, dan Melaka.
Kerajaan ini juga mengakomodasi tiga agama besar pada masa itu, yaitu Hindu Siwa, Buddha, dan Brahmana. Hal ini tercermin dalam prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yang tertulis dalam naskah Sutasoma. Prinsip ini menekankan bahwa meskipun terdapat perbedaan agama, semua memiliki tujuan yang sama dalam memuja Tuhan yang Maha Esa.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Danantara Bisa Diaudit
Dalam sistem pemerintahan, para pemuka agama berperan aktif dalam membantu raja menjalankan kebijakan. Salah satu contoh adalah Raja Hayam Wuruk yang menghormati para pemuka agama dan mengintegrasikan ajaran agama dalam pemerintahan.
Kerajaan Majapahit mampu meredam konflik antar agama yang sering terjadi di kerajaan lain. Fanatisme yang tinggi biasanya menjadi sumber konflik, tetapi di Majapahit, semua kelompok agama dapat hidup berdampingan dengan damai.
“Majapahit adalah contoh bagaimana keberagaman agama dapat menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. Dengan menekankan keadilan, kemakmuran, dan keharmonisan, kerajaan ini mampu mencapai kejayaan yang luar biasa,” imbuhnya.***
Artikel Terkait
Bendera Pusaka Bakal Bersanding dengan Naskah Asli Teks Proklamasi di Istana Merdeka
Kirab Budaya Iringi Duplikat Bendera Merah Putih dan Naskah Teks Proklamasi Kembali ke Monas
"Salinan" Naskah: Jawa dan Inggris
Humaniora Digital, Langkah Modernisasi Manuskrip Naskah Kuno ke Seni Pertunjukan
Digitalisasi Naskah Lontar, Upaya Selamatkan Warisan Budaya yang Rentan Alami Kerusakan