Peneliti BRIN Kaji Cerita Lisan di Alor dan Toleransi Beragama di Era Majapahit

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Rabu, 26 Februari 2025 | 08:56 WIB
Ilustrasi naskah kuno (Meta AI)
Ilustrasi naskah kuno (Meta AI)

Satu hal yang ia tonjolkan yakni Majapahit sebagai kerajaan besar yang memiliki wilayah kekuasaan luas, dengan tiga konstruksi utama yang menopang kejayaannya. Salah satu faktor utamanya adalah toleransi beragama.

“Berdasarkan tiga naskah utama, yaitu Sutasoma, Pararaton, dan Negarakertagama, kita dapat melihat bagaimana toleransi beragama menjadi landasan penting dalam kejayaan Majapahit,” jelasnya.

Baca Juga: Alex Teh Rilis Single 'five' sebagai Simbol Kedewasaan

Majapahit memiliki sistem kekuasaan yang luas, tidak hanya di Nusantara tetapi juga menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Asia melalui konsep Mitreka Satata.

Konsep ini menggambarkan hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan tetangga di Asia Tenggara, termasuk Tiongkok, Kamboja, Siam, Burma, dan Melaka.

Kerajaan ini juga mengakomodasi tiga agama besar pada masa itu, yaitu Hindu Siwa, Buddha, dan Brahmana. Hal ini tercermin dalam prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yang tertulis dalam naskah Sutasoma. Prinsip ini menekankan bahwa meskipun terdapat perbedaan agama, semua memiliki tujuan yang sama dalam memuja Tuhan yang Maha Esa.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Danantara Bisa Diaudit

Dalam sistem pemerintahan, para pemuka agama berperan aktif dalam membantu raja menjalankan kebijakan. Salah satu contoh adalah Raja Hayam Wuruk yang menghormati para pemuka agama dan mengintegrasikan ajaran agama dalam pemerintahan.

Kerajaan Majapahit mampu meredam konflik antar agama yang sering terjadi di kerajaan lain. Fanatisme yang tinggi biasanya menjadi sumber konflik, tetapi di Majapahit, semua kelompok agama dapat hidup berdampingan dengan damai.

“Majapahit adalah contoh bagaimana keberagaman agama dapat menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. Dengan menekankan keadilan, kemakmuran, dan keharmonisan, kerajaan ini mampu mencapai kejayaan yang luar biasa,” imbuhnya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: brin.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X