TINEMU.COM - Lakon politik terus picik. Nasib olahraga belum memberi matahari. Situasi perfilman menghasilkan tepuk tangan. Kabar tentang beras memicu kesedihan. Korupsi tak pernah selesai dengan makian atau kutukan.
Konon, bahasa dalam pers makin amburadul. Kita sejenak membuat catatan sembrono mengenai Indonesia mutakhir.
Pada akhir pekan, kita kadang ingin mendapat berita atau cerita menghibur ketimbang tergoda marah dan murung. Di Jawa Pos, 18 November 2023, terbaca judul berita: “Serahkan Naskah Jawa Kuno Digital ke Sri Sultan”.
Berita unik tanpa keramaian komentar. Judul mengarahkan “masa lalu” dan keajaiban teknologi. Sekian tahun lalu, Indonesia sedang sibuk mengadakan “digitalisasi”. Kesibukan telat dibandingkan Eropa dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Turunkan Penyebaran DBD, Kemenkes Sebut Nyamuk Wolbachia Bukan Hasil Rekayasa Genetik
Acara serah-terima dilakukan di Jogjakarta, 17 November 2023. Kita ingin menganggap peristiwa itu “penting”. Duta Besar Inggris (Dominic Jermey) mengatakan: “Menyerahkan salinan digital 120 naskah Jawa yang telah didigitalisasi oleh Birtish Library.”
Kita mengerti usaha besar dilakukan di Inggris. Naskah-naskah tetap berada di Inggris. Sri Sultan Hamengkubuwono X menerima salinan digital, bukan naskah sebagai benda lama.
Keterangan penting: “Kekayaan sejarah Jawa telah dilestarikan selamanya secara digital dengan teknologi terkini dan dedikasi dari rekan-rekan British Library.”
Kita memberi pujian. Kita justru meragu jika naskah-naskah kembali ke Indonesia. Ragu gara-gara kesanggupan merawat dan menggunakan dalam beragam kepentingan. Naskah-naskah itu sampai Inggris pada abad XIX.
Baca Juga: Sukses Gelar Showcase November Sigit Segera Siapkan Karya Baru 2024
Kita masih berhak bahagia. Berita itu baik ketimbang berita-berita politik. Berita tentang digitalisasi naskah pun mengingatkan politik silam saat Inggris hadir di Nusantara. Masa lalu itu belum terlupa.
Berita berkaitan dengan buku berjudul Inggris di Jawa 1811-1816 (2017) susunan Peter Carey. Sumber lama dimunculkan lagi di hadapan sidang pembaca.
Peter Carey menjelaskan: “Seorang pangeran Jawa setengah-baya yang kita kenal bergelar Pangeran Aryo Panular (sekitar 1772-1826) ini adalah seorang sastrawan amatir dengan kecintaan pada wayang kulit dan pementasan tari Jawa. dia menyimpan satu kronik-catatan harian unik yang ditulis dalam tembang macapat dan dimulai pada waktu pengeboman Inggris atas keraton pada malam 19-20 Juni 1812 dan berakhir 16 Mei 1816, tidak lama sebelum pemerintah Belanda kembali secara resmi ke pulau Jawa pada 19 Agustus 1816.”
Baca Juga: Semua Akan Berubah Menyesuaikan Kebutuhan Diri
Kita diajak mengenang masa lalu mengacu warisan tulisan. Kita pun ingat masa itu menentukan nasib naskah-naskah. Para pejabat Inggris membawa naskah-nkash itu keluar dari keraton, meninggalkan Jawa untuk sampai ke Inggris.
Artikel Terkait
Begini Caranya Beragam Jenis Ikan Diolah Pada Zaman Nusantara Dulu
Bahasa Indonesia: Tulisan (Lama) dan (Perubahan) Judul
Soekarno: 1926 dan 1954
Sejarawan Australia, Scott Merrillees Ulas Sejarah Perkembangan Kota Jakarta Melalui Foto