"Salinan" Naskah: Jawa dan Inggris

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Senin, 20 November 2023 | 16:15 WIB
Ilustrasi Thomas Raffles di Java (Plaground AI)
Ilustrasi Thomas Raffles di Java (Plaground AI)

TINEMU.COM - Lakon politik terus picik. Nasib olahraga belum memberi matahari. Situasi perfilman menghasilkan tepuk tangan. Kabar tentang beras memicu kesedihan. Korupsi tak pernah selesai dengan makian atau kutukan.

Konon, bahasa dalam pers makin amburadul. Kita sejenak membuat catatan sembrono mengenai Indonesia mutakhir.

Pada akhir pekan, kita kadang ingin mendapat berita atau cerita menghibur ketimbang tergoda marah dan murung. Di Jawa Pos, 18 November 2023, terbaca judul berita: “Serahkan Naskah Jawa Kuno Digital ke Sri Sultan”.

Berita unik tanpa keramaian komentar. Judul mengarahkan “masa lalu” dan keajaiban teknologi. Sekian tahun lalu, Indonesia sedang sibuk mengadakan “digitalisasi”. Kesibukan telat dibandingkan Eropa dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Turunkan Penyebaran DBD, Kemenkes Sebut Nyamuk Wolbachia Bukan Hasil Rekayasa Genetik

Acara serah-terima dilakukan di Jogjakarta, 17 November 2023. Kita ingin menganggap peristiwa itu “penting”. Duta Besar Inggris (Dominic Jermey) mengatakan: “Menyerahkan salinan digital 120 naskah Jawa yang telah didigitalisasi oleh Birtish Library.”

Kita mengerti usaha besar dilakukan di Inggris. Naskah-naskah tetap berada di Inggris. Sri Sultan Hamengkubuwono X menerima salinan digital, bukan naskah sebagai benda lama.

Keterangan penting: “Kekayaan sejarah Jawa telah dilestarikan selamanya secara digital dengan teknologi terkini dan dedikasi dari rekan-rekan British Library.”

Kita memberi pujian. Kita justru meragu jika naskah-naskah kembali ke Indonesia. Ragu gara-gara kesanggupan merawat dan menggunakan dalam beragam kepentingan. Naskah-naskah itu sampai Inggris pada abad XIX.

Baca Juga: Sukses Gelar Showcase November Sigit Segera Siapkan Karya Baru 2024

Kita masih berhak bahagia. Berita itu baik ketimbang berita-berita politik. Berita tentang digitalisasi naskah pun mengingatkan politik silam saat Inggris hadir di Nusantara. Masa lalu itu belum terlupa.

Berita berkaitan dengan buku berjudul Inggris di Jawa 1811-1816 (2017) susunan Peter Carey. Sumber lama dimunculkan lagi di hadapan sidang pembaca.

Peter Carey menjelaskan: “Seorang pangeran Jawa setengah-baya yang kita kenal bergelar Pangeran Aryo Panular (sekitar 1772-1826) ini adalah seorang sastrawan amatir dengan kecintaan pada wayang kulit dan pementasan tari Jawa. dia menyimpan satu kronik-catatan harian unik yang ditulis dalam tembang macapat dan dimulai pada waktu pengeboman Inggris atas keraton pada malam 19-20 Juni 1812 dan berakhir 16 Mei 1816, tidak lama sebelum pemerintah Belanda kembali secara resmi ke pulau Jawa pada 19 Agustus 1816.”

Baca Juga: Semua Akan Berubah Menyesuaikan Kebutuhan Diri

Kita diajak mengenang masa lalu mengacu warisan tulisan. Kita pun ingat masa itu menentukan nasib naskah-naskah. Para pejabat Inggris membawa naskah-nkash itu keluar dari keraton, meninggalkan Jawa untuk sampai ke Inggris.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X