TINEMU.COM - Sejarawan Australia, Scott Merrillees mengulas sejarah perkembangan Jakarta saat menjadi narasumber di Urban Lecture seri ke-30 bertema Jakarta in the 1950s yang digelar Pusat Riset Kependudukan (PRK) BRIN pada Selasa, 14 November 2023.
Scott Merrillees yang pernah menulis Buku Sejarah Ibukota Indonesia, Jakarta ini menceritakan pengalamannya mengamati perubahan kota Jakarta dari masa ke masa melalui foto.
Sejarawan Australia, Scott Merrillees gemar mengumpulkan foto-foto terkait kota Jakarta pada masa lampau yang dibangun dengan master plan, ditata, dan direncanakan secara utuh dan menyeluruh.
Baca Juga: Tridaya Festival Satukan 20 Desa Kawasan Borobudur
Salah satu bangunan yang disorot Scott adalah Balai Kota di Jalan Medan Merdeka Selatan yang dipakai oleh Kota Praja Jakarta sampai akhir 1960, namun dari segi arsitektur tidak begitu menarik.
“Dalam cerita sejarah, Ali Sadikin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, meminta gedung tersebut dibongkar dan diganti dengan gedung balai kota yang baru,” rinci Scott dikutip dari laman brin.go.id.
Ia juga menyoroti gedung Komisi Pemilihan Umum, dulu sebagai pusat perkebunan di Jalan Imam Bonjol, yang mempunyai desain sangat modern karena dirancang oleh arsitek asal Belanda. Saat itu, belum banyak arsitek dari Indonesia sementara profesi arsitek sangat penting untuk kemajuan kota.
Baca Juga: Kaum Muda dan Masyarakat Pedesaan Berisiko Tinggi Terdampak Manipulasi Media Digital
‘’Pada masa itu, jalanan yang dijadikan jalan protokol adalah Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman. Sementara jalan yang terkenal saat itu adalah Jalan Majapahit, lantaran sumber perhatiannya yaitu Gedung Harmoni pada 1985 dibongkar atau diperlebar untuk dijadikan Jalan Majapahit,’’ urainya.
Pria yang hobi mengoleksi kartu pos ini mengisahkan, Jakarta pada 1930 jauh lebih hijau, contohnya Jalan Hayam Wuruk selama 400 tahun lamanya punya peran penting. Jalan ini yang menyambungkan Kota Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dengan Tanjung Priuk, dan Jalan Thamrin, serta Jalan Sudirman.
Pada 1962, hotel yang sangat terkenal saat itu adalah Hotel Duta Indonesia, tetapi bangunan tersebut tidak diselamatkan dan tidak dirawat. Bangunan hotel ini kemudian dibongkar dan tidak diganti untuk menjadi bangunan bersejarah.
Baca Juga: Mokondoo, Adityo Prakoso dan Diergo Bikin Pecah Boleh Gig
“Saat itu transportasi kereta diberhentikan karena Presiden Soekarno menganggap kereta tidak cukup modern dan rel kereta ditutup dengan diaspal. Ada lagi, hotel yang terkenal nomor dua yaitu yang terletak di Jalan Veteran dibongkar dan diganti fungsi yang berbeda,” ujarnya.
Scott juga mengisahkan kondisi Kota Jakarta pada 1980-1990 dengan pusat pertokoan untuk menengah ke atas adalah Pasar Baru yang berdiri pada 1820. Pasar Baru menjadi pasar utama di Jakarta.
Artikel Terkait
Opini Bandung Mawardi: Kaoem Isteri; Aneka Urusan, Dari Ibu Tien Sampai Sarinah
Meriahkan Bulan Kemerdekaan, Pameran Arsip dan Mobil Kepresidenan Digelar di Gedung Sarinah
Kirab Budaya Iringi Duplikat Bendera Merah Putih dan Naskah Teks Proklamasi Kembali ke Monas
Sarinah: Terasi dan Kepala Kerbau
Jakarta Masuk Daftar Kota yang Wajib Dikunjungi Tahun 2024 Versi Lonely Planet