temu-serasi

Alam dan Iman

Sabtu, 8 Maret 2025 | 07:13 WIB
ilustrasi malam di kampung (Grok)

TINEMU.COM - Bulan menentukan selera dalam menikmati puisi. Pada saat bulan Ramadhan, orang-orang ingin membaca puisi keagamaan atau religius.

Nama-nama lekas teringat untuk pembaca merasakan ungkapan-ungkapan dalam pergumulan iman, rangsang alam, dan amalan kemanusiaan.

Kita memilih dua nama: Zawawi Imron dan A Mustofa Bisri (Gus Mus).

Puisi itu bacaan. Kenikmati membaca dapat berlanjut kecamuk pemaknaan, tak sekadar melafalkan kata-kata dalam susunan mengesankan.

Di hadapan puisi, pembaca bolak-balik memikirkan biografi pengarang berkaitan sosial-kultural pesantren, perdesaan, atau pesisir. Puisi lumrah terbaca mengikutkan pengetahuan biografi.

Pembaca puisi pun melakukan penafsiran selaras sesuai kepentingan-kepentingan ingin diwujudkan.

Baca Juga: Raga dan Selasa

Di buku berjudul Madura, Akulah Lautmu (2019) berisi puisi-puisi gubahan Zawawi Imron, kita mudah terbujuk memilih puisi sesuai pengalaman selama Ramadhan.

Kita membaca puisi berjudul “Dusun Malam Selesai Hujan”. Puisi itu ditulis secara dekat, akrab, dan merasuk.

Kita merasakan alam dan pengalaman: dari semak-semak yang basah/ ada dasir meski tak kupahami/ namun kuhayati/ - “seakan jejak bulan tak akan basi” - / malam dusun yang disejukkan angin/ dan hujan/ mendesak jarak yang masih tinggal.

Pembaca mengandaikan merasakan pikat hujan sambil menikmati hari-hari religius. Pada alam, orang menemukan segala dan menempatkan diri dalam “kebersamaan” untuk mengerti kuasa alam.

Kesadaran iman kadang dibentuk oleh pertautan manusia dan alam. Di situ, manusia mengerti khazanah makhluk dan tata kehidupan. Di tatapan mata, segala itu memunculkan bukti-bukti kekuasaan Tuhan.

Baca Juga: Siap-Siap Petualangan Ajaib di Lebaran 2025 Bersama 'Jumbo'!

Di jagat batin, manusia mengerti ada keteraturan, keselarasan, dan keterkaitan menjadikan hidup itu dialami dengan “kewajaran” mengandung kebenaran-kebenaran.

Kita berganti membuka buku berjudul Pahlawan dan Tikus (2005, berisi puisi-puisi gubahan A Mustofa Bisri (Gus Mus). Puisi terpilih untuk dibaca berjudul “Bumi Bingung”.

Halaman:

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB