Buku: Penerjemah dan Waktu

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 7 Februari 2023 | 09:46 WIB
Sri Kusdyantinah Subandrio (Sri Indrayati / Pusat Data Tempo)
Sri Kusdyantinah Subandrio (Sri Indrayati / Pusat Data Tempo)

TINEMU.COMBuku-buku terbit dengan gamblang dan misteri. Judul dan nama penulis lumrah dicantumkan di sampul depan. Orang-orang melihat dengan sepintas atau saksama, dilanjutkan keputusan menjadi pembeli dan pembaca.

Di tatapan mata, buku itu mengingatkan masa lalu. Buku-buku “membawa” waktu agar tak tersimpan di lemari terkunci. Buku itu waktu saat kita berusaha mengenali biografi penulis dan sadar peran penerbit.

Waktu memang jarang gamblang tapi memungkinkan kita bisa menempatkan buku di bentangan waktu terbagi babak-babak. Pembaca biasa mengetahui waktu saat membaca tahun terbit atau cetakan.

Tahun menandakan buku dipersembahkan kepada pembaca. Tahun mengartikan kekuatan dan cara penulis merampungkan buku. Kita masih bisa menafsir bahwa tahun berkaitan situasi pasar perbukuan, iklim keintelektualan, pasang-surut kesusastraan, gejolak politik, dan lain-lain.

Buku itu waktu.

Baca Juga: PB ESI Bahas Fenomena Disrupsi Web 3.0 bagi Perkembangan Ekosistem Esports

Konon, buku itu terbit dalam bahasa Inggris seratus tahun lalu. Buku lekas bergerak ke pelbagai tempat dengan bahasa-bahasa berbeda. Buku itu diterjemahkan untuk mendapat pembaca tak sanggup memasuki bahasa Inggris.

Pada masa 1949, penerjemahan dilakukan oleh Bahrum Rangkuti. Orang-orang Indonesia perlahan mengenali nama pengarang tenar kelahiran Lebanon dan bersastra di Amerika Serikat. Ia bernama Khalil Gibran. Buku diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu berjudul An Nabi. Buku diterbitkan oleh Pembangunan.

Pada masa 1950-an, buku berukuran kecil ingin mendapat perhatian dan tanggapan pembaca. Di Indonesia, para pembaca sedang gandrung dengan sastra terjemahan berasal dari Eropa, Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Soviet, dan lain-lain.

Kehadiran buku terjemahan berjudul An Nabi agak memberi petunjuk selera pembaca dan penerjemah. Nama penulis itu kelak “mengakar” di Indonesia. Buku diterjemahkan Bahrum Rangkuti mungkin datang terlalu dini.

Baca Juga: Kasus Diabetes Pada Anak Meningkat, Cegah dengan Membatasi Konsumsi Makanan Manis

Buku itu tak dijamin teringat oleh para pembaca buku-buku Khalil Gibran, sejak masa 1980-an sampai sekarang. Sekian orang mungkin mula-mula mengingat kegandrungan atas gubahan-gubahan Gibran saat membaca buku-buku terjemahan diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Pada masa berbeda, buku-buku itu diterbitkan oleh Bentang, Pustaka Pelajar, Fajar Pustaka, dan lain-lain.  

Buku-buku kecil terbitan Pustaka Jaya lekas memoncerkan Khalil Gibran. Orang-orang keranjingan membaca dan mengambil kutipan-kutipan. Keramaian makin terjadi pada masa 1990-an saat buku-buku Khalil Gibran masuk daftar laris di pelbagai toko buku. Ribuan orang menggemari buku-buku Khalil Gibran. Mereka melulu mengingat Khalil Gibran, bukan nama para penerjemah.

Pada 1981, buku terjemahan berjudul Sang Nabi diterbitkan Pustaka Jaya. Buku berukuran kecil, 132 halaman. Buku diterjemahkan oleh Sri Kusdyantinah. Penerjemahan dilakukan dari buku berbahasa Inggris berjudul The Prophet.

Nama penerjemah dicantumkan di dua halaman awal. Dulu, orang sempat membaca nama penerjemah tapi belum dijanjikan bakal mendapat penghormatan. Ingatan biasa memusat kepada Khalil Gibran ketimbang penerjemah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X