TINEMU.COM- Di pertengahan 1970-an band Chicago pernah menjadi raksasa dengan brass section mereka yang gagah. Mereka termasuk pelopor sekaligus penerus era brass rock atau musik rock yang kerap menggunakan alat tiup sejak terbentuk pada tahun 1967. Chase, salah satu grup yang juga memainkan brass rock juga sedang populer. Di Indonesia sendiri The Rollies adalah salah satu band yang terang-terangan terpengaruh dan mengikuti jejak Chicago dengan memasukkan elemen alat musik tiup. Solo album Phil Collins seperti Face Value (1981) dan Hello I Must Be Going (1982) serta beberapa lagu-lagu lainnya di album No Jacket Required (1985) dan But Seriously (1989) juga mengarah ke brass rock.
Sayangnya keemasan brass section yang menjadi ciri khas Chicago di awal 1980-an mulai sekarat. Album-album mereka gagal, suara mereka dianggap kuno, dan mereka baru saja didepak oleh label rekaman mereka, Victory Records. Di tengah keputusasaan itulah, sebuah kesepakatan dibuat. Seorang produser jenius bernama David Foster didatangkan Warner Bros untuk "melakukan sebuah keajaiban". Dan ia melakukannya, namun dengan sebuah harga yang sangat mahal.
Foster, seorang arsitek pop modern, memiliki satu visi: singkirkan nuansa jazz-rock yang rumit, dan berikan dunia sebuah pop balada yang tak bisa mereka lupakan. la menemukan partner yang sempurna dalam diri sang vokalis, Peter Cetera, yang sebenarnya juga sudah lama lelah dengan suara terompet khas bandnya. Bersama-sama, mereka bekolaborasi menulis Hard to Say I'm Sorry- yang kemudian dimasukkan dalam album Chicago 16 dirilis 1982.
Baca Juga: “Ordinary Man”: Lagu Perpisahan yang Paling Manusiawi dari Ozzy Osbourne
Namun, di tengah proses rekamannya berbeda dengan penulisannya. Yang terjadi ternyata seperti semacam kudeta. Foster, yang tidak sabar dengan proses internal band, meminggirkan sebagian besar anggota Chicago. Sebagai gantinya, ia membawa masuk beberapa Hired Gun "pasukan bayaran"—para musisi sesi terbaik dunia saat itu, yang kebetulan adalah anggota band Toto. Mereka adalah Steve Lukather (gitar),bersama David Paich dan Steve Porcaro di bagian kibor/synthesizer. Yang tersisa dari personil asli Chicago, khususnya di lagu itu hanyalah pemain drum Danny Seraphine dan, tentu saja, vokal Peter Cetera yang melengking penuh kepedihan!
Ironisnya, lagu yang direkam oleh "band lain" ini justru menjadi penyelamat Chicago. la melesat ke puncak tangga lagu di Billboard Top 40 berminggu-minggu, menjadi hit #1 kedua mereka, dan melambungkan kembali nama Chicago.
Namun, di dalam internal band, lagu ini bisa diartikan adalah sebuah luka. la adalah bukti bahwa formula baru-formula Foster dan Cetera—jauh lebih sukses daripada visi kolektif mereka yang sudah terbangun sebelumnya bertahun-tahun. Liriknya sendiri terasa seperti sebuah cermin dari apa yang terjadi di balik layar.
Baca Juga: Mengapa Kita Perlu Mendengarkan Lagu Radiohead yang Ini?
Saat Cetera menyanyikan, "After all that we've been through, I will make it up to you," banyak orang menyangka mungkin ia sedang memohon kepada kekasihnya. Nyatanya, kalimat tersebut bermakna multi tafsir. Mungkin bagi pendengar, jurnalis, pengamat musik adalah "permohonan cinta" tapi bagi para anggota band lainnya, kalimat itu mungkin terdengar seperti sebuah janji kosong....
Lagu ini adalah sebuah permohonan maaf yang megah, namun di dalam sejarah Chicago, ia adalah sebuah perpisahan yang tak pernah benar-benar terucapkan. Sebuah kemenangan yang terasa seperti sebuah kekalahan...**
Artikel Terkait
'The Seventh One' dan 'Fahrenheit', Dua Album Terbaik TOTO
Dobel Album Judas Priest yang Batal Diproduksi
Billy Joel Pernah Bikin Grup Rock! Kok Bisa?
Mengapa Kita Perlu Mendengarkan Lagu Billie Eilish yang Ini?