TINEMU.COM - Orang berpuasa saat Ramadan biasa mendapat godaan-godaan. Konon, godaan berat itu makanan dan minuman. Orang dalam kondisi (menahan) lapar dan haus bakal menguji diri saat melihat makanan-makanan lezat atau minuman segar. Godaan itu meminta tanggapan: bertahan atau mengikuti hasrat bersantap.
Pada 2023, godaan itu muncul di televisi. Di sekian stasiun televisi, acara penting selama Ramadan justru memasak atau makan. Orang-orang melihat acara-acara itu memastikan makanan (terlalu) penting. Siaran acara memasak atau makan justru sejak pagi sampai sore. Acara itu diimbuhi iklan-iklan makanan dan minuman. Di depan televisi, godaan itu terus bertumpuk. Kita mungkin bisa melawan ajakan untuk makan atau minum saat siang hari tapi imajinasi-imajinasi makanan itu meresap untuk kelak diwujudkan.
Godaan picisan tentu tertawa. Di televisi, acara-acara mengajak para penonton tertawa memicu kegemaran. Acara itu mudah mendapatkan iklan-iklan. Acara mencipta tertawa lumrah digemari meski mula-mula dianggap aneh. Waktu menjelang sahur malah mengumbar tawa. Acara itu kadang “keterlaluan” dalam omongan, tingkah, dan penampilan. Kita mendingan sabar dan sadar itu godaan picisan.
Baca Juga: Bacaan dan Demokrasi
Orang memegang gawai makin menantang diri dengan godaan-godaan. Gerakan jari dan tatapan mata menentukan jumlah dan mutu godaan. Di gawai, godaan-godaan mungkin melenakan. Sekian orang kadang bisa mengelak godaan dengan menikmati sekian suguhan (pengajaran) agama. Di hadapan gawai, mereka mengaku ikut pengajian atau belajar agama.
Kita mundur ke masa lalu. Godaan dengan rupa dan kadar berbeda. Di majalah Matra edisi Januari 1997, godaan dimunculkan melalui gambar hitam-putih sehalaman. Kita menganggap itu iklan atau pengumuman. Halaman diadakan oleh Humor dan Matra. Persekongkolan mengabarkan godaan berlatar puasa.
Kita melihat orang-orang berada di toko buku. Di situ, ada bentangan kain berisi pengumuman: “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”. Kita agak bingung mengaitkan masalah puasa dan toko buku. Pada 1997, Indonesia menjelang krisis dan amburadul. Halaman bergambar itu agak mengingatkan situasi Indonesia masih “wajar”. Pilihan mengabarkan toko buku mengandung ajakan agar orang-orang tak selalu berpikiran puasa itu makanan dan minuman. Ramadhan itu bacaan.
Baca Juga: Hiburan Tanpa Ujian
Anggapan itu mula-mula benar. Orang menikmati Ramadan dengan rajin membaca itu kebaikan. Tubuh memang tak kemasukan makanan dan minuman. Diri tetap memerlukan asupan berupa pengetahuan atau “hiburan” bersumber bacaan. Toko buku menjadi alamat terbaik bagi orang-orang mengikuti “godaan” bacaan.
Toko buku itu penuh rak dengan kategori: filsafat, biografi, politik, agama, novel, hiburan, ekonomi, hukum, masakan, dan olahraga. Pengunjung cuma sedikit. Mereka berkerumun di satu rak. Kita melihat mereka di rak masakan. Delapan orang memegang buku tentang masakan. Mereka dalam kondisi berpuasa tapi menuruti “godaan” membaca dan berimajinasi kelezatan.
Berdiri dan tampak serius dengan buku terbuka. Mereka sengaja berkumpul di rak masakan. Konon, membaca dan berimajinasi bisa membuat waktu lekas berlalu. Di situ, mereka mungkin membaca sekian menit atau jam. Rak-rak lain sepi tanpa pembaca dan pembeli.
Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (29)
Kegirangan delapan orang itu berbeda dengan kasir. Kita melihat kasir itu tampak kesepian dan bingung. Ia berharap ada pembeli buku atau majalah. Toko buku ingin mendapatkan laba. Ia pun menduga kehadiran delapan orang itu mampir membaca saja. Mereka merasa cukup puas dengan membaca di tempat. Kehadiran sebagai pembaca, bukan pembeli.
Pada abad XXI, gambar sehalaman itu bakal terabaikan. Kini, orang-orang menonton acara memasak dan makan di televisi. Mereka pun bisa memuaskan hasrat dengan menikmati segala sajian di media sosial. Mereka tak perlu menjadi pembaca. Mereka tak direpotkan pergi dari rumah menuju toko buku. Begitu.**
Artikel Terkait
Lily Yulianti Farid dan Lahirnya Sastra Reboan
Bersama: Beraroma dan Bercerita
Merayakan Nostalgia Bersama Lagu "Komang" Raim Laode