TINEMU.COM - Pada Desember 2021 saya menargetkan khatam Al-Qur'an pada Mei 2022 (akhir Ramadhan 1443 H). Waktu itu saya indekos di Paseban, Jakarta Pusat.
Indekos di situ merupakan pengalaman mengesankan, karena kosan itu memberi layanan sarapan dan makan malam, cuci-setrika, ditambah Wi-Fi (bagi yang mau). Di kosan itu hidupku simpel, tak kerepotan mencuci, setrika, bebersih di luar kamar, cari makanan, masak, dan lain-lain.
Saya bisa mengisi waktu luang melakukan yang saya inginkan, seperti olahraga ringan dan baca Al-Qur'an, baik pagi sebelum berangkat kerja atau petang setelah kerja. Di kosan ini saya sempat khatam Al-Qur'an meneruskan daras sebelumnya.
Baru sebentar ngekos di Paseban tempat kerja saya pindah kantor ke daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Di sini saya menempati kamar belakang kantor.
Baca Juga: Patung Penari Topeng Betawi di Waduk Pluit Disorot Warganet
Tinggal di kantor yang paling bikin sibuk ialah harus cuci-setrika sendiri dan cari makanan. Kalau mau londri harus ke luar kompleks kantor. Warung paling dekat kantor sekitar 1 km bolak-balik. Tak lama kemudian saya dapat rekomendasi katering. Jadi buat makan siang dan malam tak repot lagi.
Bintaro adalah kawasan elite. Lingkungannya makmur, maju, tertata rapi, dan nyaman. Jalan-jalan besar beraspal mulus. Pinggiran kawasannya pun bisa dibilang rapi dan bagus, tapi masih banyak sampah berserakan di pinggir jalan dan sebagian ruas jalannya bocel-bocel.
Jalan yang bagus dan tidak sangat padat lalu lintas waktu pagi membuat hobi gowes saya tersalurkan dengan baik di kawasan ini. Bagi komunitas goweser, Bintaro terkenal dengan Bintaro Loop, yaitu gowes bolak-balik sepanjang Jalan Boulevard Bintaro sekitar 25 km.
Rute Bintaro Loop nyambung ke kawasan elite lain di sekitar Tangerang Selatan, seperti Graha Raya, Alam Sutera, BSD, dan Mozia yang memberi kenyamanan lebih bagi pesepeda, terutama pengguna sepeda balap.
Baca Juga: MediaTek Dimensity 1080 Optimalkan Performa Smartphone 5G
Begitu tinggal di Bintaro hobi gowes saya jadi terasa optimal. Hampir setiap pagi saya gowes sekitar satu sampai satu setengah jam. Setelah salat subuh dan beres-beres biasanya saya langsung siap-siap gowes.
Saya lebih suka gowes di pinggir kawasan utama Bintaro daripada ke Bintaro Loop. Sebabnya jelas: saya tidak bisa ngebut. Kecepatan rata-rataku di bawah 20 km / jam.
Lagi pula gowes ke pinggir kawasan Bintaro lebih berkelok-kelok, variatif, dan jarang berpapasan dengan mobil ngebut.
Saking rutin, sejak di Bintaro saya beberapa kali berhasil memenuhi tantangan Strava gowes 800 km atau paling sering 400 km per bulan. Tanpa disadari rutinitas dan disiplin ternyata bisa menghasilkan kejutan.
Baca Juga: Mampir Ngombe, Kolaborasi Apik Iwa K dan Sujiwo Tedjo
Artikel Terkait
Kemensos Evakuasi Ke Rumah Sakit Pasutri yang Sudah Puluhan Tahun Lumpuh
Tino Sidin: Iklan, TVRI, Buku
Saya Lahir di Tahun Kelahiran NU 1926, Berarti Saya Anak NU, Gurau Syekh Yusuf Al-Qaradawi
Ki Anom Suroto, Antara Dalang, Sepak Bola, dan Pemilu