Yang Yuhuan, Selir Kaisar Tiongkok Tercantik yang Akhir Hidupnya Tragis

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 9 Desember 2023 | 07:42 WIB
Ilustrasi Selir Kaisar Tiongkok Zaman Dulu (Playground AI)
Ilustrasi Selir Kaisar Tiongkok Zaman Dulu (Playground AI)

TINEMU.COM - Yang Guifei (selir-permaisuri Yang) bernama kecil Yang Yuhuan lahir pada tahun 719 M di Kota Lingwu, Tiongkok.

Yang Yuhuan adalah salah satu tokoh paling terkenal pada masa Dinasti Tang pada abad ke-8.

Kecantikannya membuat ia menarik perhatian banyak orang di sekitarnya sejak muda.

Pada usia 14 tahun, Yang Yuhuan memasuki istana sebagai salah satu selir Kaisar Tang Xuanzong.

Keberuntungannya tumbuh dengan cepat, dan ia segera menjadi salah satu selir yang paling disukai oleh kaisar.

Baca Juga: Ternyata KDRT Bukan Sekadar Masalah Pribadi atau Keluarga

Keindahan fisiknya yang luar biasa, ditambah dengan kepribadian yang ramah dan cerdas, membuatnya memegang pengaruh besar di istana.

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Kaisar Xuanzong dan Yang Yuhuan berkembang menjadi lebih dari sekadar hubungan selir.

Pada tahun 744 M, setelah Kaisar Xuanzong memberikan pengaruh lebih besar atas urusan negara kepada saudara perempuan Yang Yuhuan, dia diangkat sebagai Permaisuri, mendapatkan gelar Guifei (selir yang diangkat menjadi permaisuri).

Kontribusi Yang Guifei bukan hanya dalam hal kecantikan dan hubungan pribadi dengan kaisar, tetapi juga melibatkan partisipasinya dalam kebijakan politik.

Baca Juga: Banyak Hikmah Jadi Pendengar. Tapi Orang Lebih Suka Bicara!

Dia sering memberikan saran kepada kaisar dalam urusan pemerintahan dan terlibat aktif dalam mendukung seniman dan cendekiawan di istana, menciptakan suasana budaya yang berkembang.

Namun, puncak kejayaan Yang Guifei juga mengundang rasa iri dan kebencian di kalangan pejabat istana dan keluarga kerajaan.

Pada saat yang sama, kekacauan politik mulai muncul di wilayah Tiongkok, dengan pemberontakan An Lushan pada tahun 755 M yang mengguncang Dinasti Tang.

Pemberontakan ini membawa ancaman serius terhadap kestabilan politik dan keamanan kerajaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X