6 Januari 1958 dan Malas

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Sabtu, 6 Januari 2024 | 10:29 WIB
Ilustrasi Soe Hok Gie Menulis (Dedy Tri Riyadi / Playground AI)
Ilustrasi Soe Hok Gie Menulis (Dedy Tri Riyadi / Playground AI)

TINEMU.COM - Pergantian tahun bukan dinikmati dengan pesta. Pada suatu masa, remaja mengerti gerak waktu dengan buku.

Ia memilih mengurusi buku pada akhir 1957. Tahun itu bakal berlalu tapi hidup tak berpaling dari buku.

Remaja itu bernama Soe Hok Gie. Ia terbiasa menulis catatan harian. Pada 18 Desember 1957, ia menulis kejadian: “Siangnya aku pergi ke toko buku Gunung Agung dengan seniman rombengan.”

Ia berada di Kwitang. Tempat itu bertumbuh dengan buku-buku. Pada masa 1950-an, Haji Masagung berani berniaga buku di Kwitang.

Usaha itu membesar dan membuat sejarah dengan mengadakan pekan buku (1954). Di Kwitang, Soe Hok Gie membentuk diri sebagai pembaca buku.

Baca Juga: Mobil dan 5 Januari 1974

Ia mengerti 1957 bakal berakhir. Peran sebagai pembaca belum berakhir. Ia justru menjadi penikmat buku dan suka memberi kritik.

Di buku berjudul Catatan Seorang Demonstran (1983), kita membaca kritik terhadap teman: “Dia baru saja baca buku N St Iskandar sudah mengaku seniman. Berani memberi definisi. Seratus persen turut buku. Dasar anak geblek. Di jalan aku tambah muak kepadanya. Sok tahu Leo Tolstoy, tahunya Abdul Muis. Memang mereka sok seniman.”

Soe Hok Gie sedang bertumbuh menjadi intelektual. Ia mengerti seni tanpa sumpah menjadi seniman.

Ia hidup di keluarga keranjingan buku. Di sekolah, Soe Hok Gie biasa bermasalah dengan guru dan teman. Masalah dipicu buku-buku atau (kebenaran) pengetahuan.

Kita berimajinasi hari-hari terakhir 1957 dinikmati Soe Hok Gie dengan membaca buku-buku. Tahun berlalu jangan sia-sia.

Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (300)

Halaman-halaman bacaan terbuka membuat Soe Hok Gie mengerti dunia. Ia berhak bersuara.

Tahun pun berganti. Demokrasi di Indonesia berantakan. Indonesia masa 1950-an, Indonesia ruwet dengan ide-ide.

Indonesia bimbang gara-gara revolusi dan impian-impian muluk. Soe Hok Gie tak sedang berperan menjadi penggerak Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X