TINEMU.COM - Pergantian tahun bukan dinikmati dengan pesta. Pada suatu masa, remaja mengerti gerak waktu dengan buku.
Ia memilih mengurusi buku pada akhir 1957. Tahun itu bakal berlalu tapi hidup tak berpaling dari buku.
Remaja itu bernama Soe Hok Gie. Ia terbiasa menulis catatan harian. Pada 18 Desember 1957, ia menulis kejadian: “Siangnya aku pergi ke toko buku Gunung Agung dengan seniman rombengan.”
Ia berada di Kwitang. Tempat itu bertumbuh dengan buku-buku. Pada masa 1950-an, Haji Masagung berani berniaga buku di Kwitang.
Usaha itu membesar dan membuat sejarah dengan mengadakan pekan buku (1954). Di Kwitang, Soe Hok Gie membentuk diri sebagai pembaca buku.
Baca Juga: Mobil dan 5 Januari 1974
Ia mengerti 1957 bakal berakhir. Peran sebagai pembaca belum berakhir. Ia justru menjadi penikmat buku dan suka memberi kritik.
Di buku berjudul Catatan Seorang Demonstran (1983), kita membaca kritik terhadap teman: “Dia baru saja baca buku N St Iskandar sudah mengaku seniman. Berani memberi definisi. Seratus persen turut buku. Dasar anak geblek. Di jalan aku tambah muak kepadanya. Sok tahu Leo Tolstoy, tahunya Abdul Muis. Memang mereka sok seniman.”
Soe Hok Gie sedang bertumbuh menjadi intelektual. Ia mengerti seni tanpa sumpah menjadi seniman.
Ia hidup di keluarga keranjingan buku. Di sekolah, Soe Hok Gie biasa bermasalah dengan guru dan teman. Masalah dipicu buku-buku atau (kebenaran) pengetahuan.
Kita berimajinasi hari-hari terakhir 1957 dinikmati Soe Hok Gie dengan membaca buku-buku. Tahun berlalu jangan sia-sia.
Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (300)
Halaman-halaman bacaan terbuka membuat Soe Hok Gie mengerti dunia. Ia berhak bersuara.
Tahun pun berganti. Demokrasi di Indonesia berantakan. Indonesia masa 1950-an, Indonesia ruwet dengan ide-ide.
Indonesia bimbang gara-gara revolusi dan impian-impian muluk. Soe Hok Gie tak sedang berperan menjadi penggerak Indonesia.
Artikel Terkait
Awalnya Gitar Listrik itu Mirip Penggorengan!
Sistem Braille, Awalnya Diabaikan Pemerintah Prancis, Sekarang Berkembang di Seluruh Dunia!
Mobil dan 5 Januari 1974