TINEMU.COM - Kaum anak dan remaja Indonesia abad XXI tak lagi akrab atau ketagihan kamus-kamus. Biografi mereka makin dibentuk kata-kata (baru) dengan pengertian-pengertian mudah diperoleh di gawai.
Mereka tetap bisa bergaul atau bercakap dengan kata-kata laris di media sosial atau bersumber dari ocehan-ocehan di televisi.
Hidup bergelimang kata tanpa keharusan bersama kamus-kamus cetak. Konon, kamus-kamus cetak mustahil mampu mengikuti perkembangan kata atau kemunculan kata-kata baru.
Mereka pun tak berduka cita atas kematian ratusan atau ribuan kata (lawas). Kata-kata tak pernah terpakai.
Baca Juga: Matematika dan Demokrasi
Kata-kata belum pernah diketahui tapi terkuburkan atau sirna. Sesalan bukan untuk kata-kata lama.
Mereka belum ingin berziarah atau tabur bunga atas kematian kata-kata. Keinginan terbesar tentu bertumbuh bersama kata-kata baru.
Kaum tua perlahan cengeng saat mengenang masa lalu. Dulu, mereka mengalam hari-hari dengan lacak kata dan makna.
Di sekolah atau rumah, kata-kata diperoleh dan dipelajari tapi memastikan pengertian dalam kamus-kamus.
Di sekolah, kamus dalam jumlah terbatas berada di perpustakaan atau di atas meja guru.
Di situ, mereka masih berharap menambah koleksi kata dan pengertian melalui pelajaran-pelajaran di sekolah.
Baca Juga: Ditemukan Membusuk, Paus Sperma Sepanjang 15 Meter Terdampar di Biak Numfor
Di rumah, kepemilikan kamus-kamus belum memberi gengsi. Orang-orang mendingan mengoleksi radio atau televisi.
Kita ingin mengenang kamus-kamus lama. Warisan berwujud cetak. Orang-orang enggan berebutan dalam menerima dan “menghidupi” warisan-warisan lama.
Kamus-kamus menunggu para pembaca. Di hadapan kamus, pembaca menjadi peziarah atau pendoa.
Artikel Terkait
Risalah Wartawan
Asal Usul 12 Shio dalam Perhitungan Tiongkok
Teringat “Orang Politik”
Matematika dan Demokrasi