Pengunjung Kamus Lama

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 13 Februari 2024 | 09:55 WIB
Buku Logat Kecil Bahasa Indonesia (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku Logat Kecil Bahasa Indonesia (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Kaum anak dan remaja Indonesia abad XXI tak lagi akrab atau ketagihan kamus-kamus. Biografi mereka makin dibentuk kata-kata (baru) dengan pengertian-pengertian mudah diperoleh di gawai.

Mereka tetap bisa bergaul atau bercakap dengan kata-kata laris di media sosial atau bersumber dari ocehan-ocehan di televisi.

Hidup bergelimang kata tanpa keharusan bersama kamus-kamus cetak. Konon, kamus-kamus cetak mustahil mampu mengikuti perkembangan kata atau kemunculan kata-kata baru.

Mereka pun tak berduka cita atas kematian ratusan atau ribuan kata (lawas). Kata-kata tak pernah terpakai.

Baca Juga: Matematika dan Demokrasi

Kata-kata belum pernah diketahui tapi terkuburkan atau sirna. Sesalan bukan untuk kata-kata lama.

Mereka belum ingin berziarah atau tabur bunga atas kematian kata-kata. Keinginan terbesar tentu bertumbuh bersama kata-kata baru.

Kaum tua perlahan cengeng saat mengenang masa lalu. Dulu, mereka mengalam hari-hari dengan lacak kata dan makna.

Di sekolah atau rumah, kata-kata diperoleh dan dipelajari tapi memastikan pengertian dalam kamus-kamus.

Di sekolah, kamus dalam jumlah terbatas berada di perpustakaan atau di atas meja guru.

Di situ, mereka masih berharap menambah koleksi kata dan pengertian melalui pelajaran-pelajaran di sekolah.

Baca Juga: Ditemukan Membusuk, Paus Sperma Sepanjang 15 Meter Terdampar di Biak Numfor

Di rumah, kepemilikan kamus-kamus belum memberi gengsi. Orang-orang mendingan mengoleksi radio atau televisi.

Kita ingin mengenang kamus-kamus lama. Warisan berwujud cetak. Orang-orang enggan berebutan dalam menerima dan “menghidupi” warisan-warisan lama.

Kamus-kamus menunggu para pembaca. Di hadapan kamus, pembaca menjadi peziarah atau pendoa.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Risalah Wartawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X