TINEMU.COM - Dua tahun terakhir, kebiasaan membaca koran cetak mulai mendapat keterangan baru. Di halaman-halaman Kompas dan Media Indonesia, kita terbiasa membaca pengumuman tentang pelatihan menulis opini.
Ajakan agar orang-orang mau belajar bersama. Para pengajar di kelas menulis opini itu para redaktur kondang dan kolumnis kondang. Kita menduga ada ratusan orang mengikuti kelas menulis opini.
Undangan itu sering muncul di halaman koran, mengartikan seri belajar mendapatkan peserta. Belajar tak gratis. Orang harus setor duit ratusan ribu atau jutaan rupiah untuk mengikuti kelas menulis opini.
Kelas belajar itu sering tanpa pertemuan di satu tempat. Mereka bertemu di gawai-gawai.
Baca Juga: Gus Baha: Kenapa Qur’an Disebut Mukjizat Paling Tinggi?
Penerbit koran dan majalah sedang bersaing dalam mengadakan kelas menulis opini. Ada pula kelas menulis cerita.
Acara-acara itu berbeda dari kebiasaan orang-orang mengikuti kelas menulis atau pelatihan di tempat dan waktu sama. Kita mengira program-program itu memastikan gairah menulis orang-orang makin bertambah.
Penulis-penulis kondang juga mulai rajin mengadakan kelas menulis model daring. Belajar ada ongkos. Para pembuat acara kadang mengumumkan fasilitas dan memberi janji-janji.
Pada saat wabah, acara itu ramai berdalih menanggapi situasi hidup menjemukan dan berharapan bakal mendapat rezeki dari tulisan-tulisan atau menjadi moncer.
Baca Juga: Menag Minta Aksara Pegon Dibakukan dan Didigitalisasi, Ini Peran Pentingnya
Kita membandingkan dengan masa lalu. Di majalah Minggu Pagi, 30 Oktober 1960, dipasang dua pengumuman. Kita membaca pengumuman dari Medan: “Anda punja bakat djadi wartawan? Ambillah kesempatan ini pasti succes! Karena satu-satunja kursus kewartawanan jang didirikan sedjak tahun 1953 di Medan, jang telah banjak menghasilkan ratusan wartawan muda tersebar diseluruh Indonesia dan Malaya.”
Orang-orang belajar secara tertulis berdurasi sekian hari. Pihak pembuat kursus mengirimkan bahan-bahan pelajaran lewat pos.
Para peserta mengikuti pelajaran-pelajaran dipengaruhi kerja kantor pos. Kiriman-kiriman datang ke alamat peserta: dimiliki dan dipelajari. Kursus tentu harus mengeluarkan duit.
Kursus tertulis itu resmi dan diketahui oleh Departemen Penerangan dan Departemen PP dan K. Orang-orang terbujuk untuk ikut setelah ada pengesahan secara resmi dan bukti-bukti dari para peserta terdahulu.
Baca Juga: Varian XBB Terdeteksi di Indonesia, Masyarakat Diminta Waspada
Artikel Terkait
Mengenal Sultan Demak I: Kapan Berdirinya Masjid Agung Demak? (6)
Mengenal Sultan Demak I: Masjid Demak Bangunan Pertama dan Terakhir yang Tersisa (7)
Menelusuri Jejak Prasejarah di ‘Kampung Purba’ De Tjolomadoe
Kanjuruhan, Riwayatmu Dulu...