Mengenal Sultan Demak I: Kapan Berdirinya Masjid Agung Demak? (6)

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Rabu, 28 September 2022 | 21:24 WIB
Gambar ilustrasi Masjid Agung Demak Tempo Dulu. Sumber: Pinterest.com, Instagram’da Design … sketching workshop (@bobbyarsitek)
Gambar ilustrasi Masjid Agung Demak Tempo Dulu. Sumber: Pinterest.com, Instagram’da Design … sketching workshop (@bobbyarsitek)

TINEMU.COM - Secara de facto, Kesultanan Demak berdiri bersamaan dengan diresmikannya Masjid Agung Demak, pada 1401 Saka/1479 Masehi. Pada kesempatan tersebut, Raden Fatah secara resmi memberlakukan hukum Salokantara, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai kitab undang-undang pertama di Nusantara yang mengandung di dalamnya syariat Islam.

Bila merujuk pada catatan sejarah, besar kemungkinan Kesultanan Demak berdiri sebagai entitas politik yang merdeka pada tahun 1478 M, atau setelah raja terakhir Majapahit, Prabu Kertabumi mengalami kekalahan akibat serangan yang dilancarkan oleh pesaingnya, bernama Dyah Ranawijaya yang bergelar Girindrawardhana.

Soal bagaimana nasib Kertabumi selanjutnya, ada yang mengatakan bahwa dia melarikan diri ke Bali (serat kanda); ada yang mengatakan dia tewas dalam serangan tersebut (pararaton); bahkan ada juga mengatakan bahwa wujudnya moksa.

Sebenarnya, sebelum terjadi serangan pada tahun 1478 tersebut, Majapahit sudah perlahan kehilangan legitimasinya di sejumlah wilayah. Ini disebabkan terdapat dua raja yang saling mengklaim legitimasi, yiatu Kertabumi yang berkedudukan di Wilwatikta; kedua, adalah Girindrawardhana yang berkedudukan di Daha.[1]

Selama beberapa waktu, telah terjadi ketegangan antara kedua penguasa ini. Dan selama kurun tersebut, tidak ada satu otoritas tunggal yang diakui secara penuh. Hingga akhirnya pada tahun 1478, Girindrawardhana menyerang Wilwatikta dengan pasukan besar sehingga hancurlah ibu kota Majapahit itu.

Baca Juga: Mengenal Sultan Demak I: Raden Fatah Pendiri Demak Bintoro (5)

Dengan hancurnya pusat kekausaan Majapahit, maka sejumlah wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri dan menyatakan merdeka. Salah satunya adalah Demak Bintoro.

Adapun bila merujuk pada bukti arkeologis, Candrasangkala[2] pada Masjid Demak menyatakan bahwa tahun 1403 Saka (1481) sebagai tarikh berdirinya Kerajaan Demak. [3] Itu artinya tiga tahun setelah kekalahan Kertabumi oleh serangan Girindrawardhana. Bisa jadi, disebabkan situasi transisi politik yang tidak menentu, Kesultanan Demak belum secara resmi didirikan.

Setelah berhasil memenangkan perang, Girindrawardhana, langsung mendaulat diri sebagai pewaris sah kekuasaan Majapahit. Dia sempat berusaha menyatukan kembali wilayah-wilayah yang terpecah selama konflik menahun antara dirinya dengan Kertabumi.

Tapi agaknya itu sudah sulit dilakukan. Mengingat beberapa wilayah – terutama yang terletak di pantai utara Jawa – sudah memiliki corak ideologi politik yang berbeda dengan Girindrawardhana.[4]

Umumnya daerah-daerah di pantai utara Jawa itu sudah dipimpin oleh orang-orang Islam. Mereka dulu naik ke puncak kekuasaan politik atas dukungan dari prabu Brawijaya V. Sehingga kesetiaan mereka lebih condong pada trah Brawijaya daripada Girindrawardhana.

Baca Juga: Jaga Kenyamanan Masyarakat, PLN Batalkan Program Kompor Listrik

Setelah kekalahan Prabu Kertabumi, satu-satunya trah Brawijaya yang memiliki legitimasi genetis dan politis sebagai pewaris Majaphit, adalah Raden Wijaya, yang ketika itu menjabat sebagai Adipati Demak Bintoro.  

Maka bila kita petakan situasi politik yang berkembang pasca kekalahan Kertabumi, terdapat dua kekuatan politik politik besar di Jawa, yaitu; Girindrawardhana yang memiliki legitimasi sebagai pemenang perang dan berkuasa di Daha (Kediri); dan Raden Wijaya, sebagai pemilik legitimasi genetis dari Brawijaya, yang saat itu memiliki pengaruh kultural cukup kuat, khususnya di pesisir utara Jawa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X