Dengan demikian, melihat proses politik yang terjadi pasca kejatuhan Majapahit, sangat mungkin bila Kesultanan Demak baru secara resmi (de jure) dideklarasikan berdiri tiga tahun kemudian, yaitu pada 1481 Masehi.
Hanya saja, bila kita melihat secara de facto, sebenarnya Kesultanan Demak sudah berdiri sebagai identitas politik yang mandiri sejak tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi, yang ditandai oleh momentum berdirinya Masjid Agung Demak. Ini berarti hanya setahun setelah kekalahan Kertabumi.
Berdasarkan informasi dari situs Kementerian Agama RI, angka 1401 Saka adalah tahun berdirinya Masjid Agung Demak. Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus[5]. Ini merupakan candrasengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka.
Baca Juga: Heboh Kasus Es Teh Kemanisan, Waspadai Risiko Konsumsi Gula Berlebih
Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi. [6]
Menurut Agus Sunyoto, bersamaan dengan diresmikannya Masjid Agung Demak, Raden Fatah juga secara resmi memberlakukan Kitab Undang-Undang Salokantara.[7] Banyak pihak yang memaklumkan bahwa Salokantara adalah kitab undang-undang pertama di nusantara yang mengandung di dalamnya syariat Islam.
Itu juga sebabnya, Kesultanan Demak dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Bukan hanya karena rajanya yang Muslim, tapi karena undang-undang yang berlaku di wilayah tersebut juga menjunjung syariat Islam. (AL)
Dilansir dari laman ganaislamika.com **
Catatan kaki:
[1] Lihat, Agus Sunyoto, “Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah”, Tanggerang Selatan, IIMaN, 2018, hal. 110
[2] Candrasangkala adalah cara menuliskan angka tahun suatu kejadian dalam bentuk simbol atau kalimat.
[3] Lihat, Sejarah Kerajaan Demak, https://situsbudaya.id/sejarah-kerajaan-demak/
[4] Lihat, Agus Sunyoto, Op Cit, hal. 111
[5] Bulus, dalam bahasa latin adalah Amyda Cartilaginea. Hewan ini adalah sejenis kura-kura, tapi berpunggung lunak. Tempurungnya terdiri dari tulang lunak yang dilapisi dengan kulit tebal dan licin. Hewan ini banyak ditemukan hampir diseluruh wilayah di Asia Tenggara.
[6] Lihat, Masjid Agung Demak, http://simas.kemenag.go.id/index.php/arsip/c/2/Masjid-Agung-Demak/?category_id=, diakses 6 September 2019
Artikel Terkait
Mengenal Sultan Demak I: Keturunan Siapa Raden Fatah Sesungguhnya? (1)
Mengenal Sultan Demak I: Raden Fatah Putra Kertabumi atau Kertawijaya ? (2)
Mengenal Sultan Demak I: Awal Sayyid Ali Rahmatullah Bergelar Sunan Ampel (3)
Mengenal Sultan Demak I: Perdebatan Raden Fatah dengan Aryo Damar (4)
Mengenal Sultan Demak I: Raden Fatah Pendiri Demak Bintoro (5)