Ini Rekomendasi PB IDI untuk Penanganan Kasus Cacar Monyet di Indonesia

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Senin, 30 Oktober 2023 | 08:47 WIB
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengeluarkan beberapa rekomendasi untuk penanganan kasus cacar monyet di Indonesia.  (Pixabay.com/TheDigitalArtist)
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengeluarkan beberapa rekomendasi untuk penanganan kasus cacar monyet di Indonesia. (Pixabay.com/TheDigitalArtist)

TINEMU.COM - Infeksi virus Mpox atau dikenal sebagai cacar monyet menjadi perhatian di banyak belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Untuk penanganan kasus cacar monyet di Indonesia, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengeluarkan beberapa rekomendasi.

Penyakit cacar monyet disebabkan oleh virus yang ditularkan dari hewan ke manusia dan dapat menimbulkan gejala ringan hingga berat. Mpox juga dapat menular dari manusia ke manusia.

Cepatnya penyebaran cacar monyet atau Mpox secara global dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya jumlah orang yang bepergian, perdagangan internasional hewan seperti monyet, dan munculnya jalur penularan baru dari manusia ke manusia, khususnya melalui hubungan seksual Lelaki Seks Lelaki (LSL).

Baca Juga: Pameran Lukisan : Tafsir Jeda Baron Basuning

Faktor lainnya yaitu munculnya gejala yang tidak biasa dan masih minimnya ketersediaan vaksin MPox di negara-negara berisiko tinggi. Lebih dari 90 persen kasus MPox di dunia dilaporkan pada populasi khusus yaitu homoseksual dan biseksual.

Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyakit cacar monyet atau MPox ini sebagai darurat kesehatan masyarakat global pada Juli 2022.

Laporan WHO juga menyebutkan ada kekhawatiran bahwa masalah MPox ini agak terabaikan di wilayah Asia Tenggara karena kurangnya akses terhadap fasilitas medis yang memadai.

Baca Juga: Sutradara John Wick Pastikan Akan Garap Reboot 'Highlander'

Ketua Satgas MPox PB IDI, Dr Hanny Nilasari, Sp DVE mengatakan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini, salah satu alasan utama diabaikannya Mpox di Asia Tenggara. Banyak masyarakat yang masih belum mengetahui gejala Mpox dan mungkin tidak tahu cara melindungi diri dari penyakit tersebut.

Kurangnya informasi ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam mencari pertolongan medis, yang dapat berakibat lebih parah. Selain itu, sering terjadi kesalahpahaman mengenai penyakit ini, bahwa Mpox bukanlah penyakit serius atau tidak umum terjadi.

Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya kepedulian terhadap penyakit ini dan keengganan mengambil tindakan untuk melindungi diri dari infeksi.

Baca Juga: Garansi Rangka 5 Tahun, AHM Rilis New Honda Scoopy

“Terlepas dari tantangan-tantangan ini, penting untuk menyadari peran kesadaran masyarakat dalam mengatasi masalah Mpox di Indonesia dan Asia Tenggara,” kata Dr Hanny melalui keterangan tertulis pada Senin, 30 Oktober 2023.

“Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gejala-gejala penyakit ini, dan mendidik masyarakat tentang cara melindungi diri dari infeksi, kita dapat mengurangi penyebaran penyakit dan meningkatkan hasil bagi mereka yang terinfeksi,” kata imbuhnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: PB IDI

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X