TINEMU.COM - Mata pelajaran sering menakutkan bagi murid-murid di Indonesia: matematika.
Mereka mengatakan matematika itu sulit. Dulu, murid pintar matematika dipastikan terhormat.
Ketekunan belajar dan raihan dalam mata pelajaran matematika menentukan nasib murid: naik kelas dan lulus.
Matematika, mata pelajaran masih langgeng sampai sekarang.
Baca Juga: Pemaki Mencerminkan Rendahnya Kontrol Emosi dan Empatinya
David Bergamini dalam buku berjudul Matematika (1985) menjelaskan matematika sebagai ilmu telah “membengkak” dan memiliki “sebaran” tanpa kendali, dari masa ke masa.
“Pembengkakan” dan “sebaran” memunculkan keistimewaan: “Bahasa matematika mau tidak mau telah menjadi jauh lebih rumit dan lebih sukar daripada bahasa wicara mana saja.
Anak-anak memiliki peluang jauh lebih baik untuk merasa akrab dengan matematika bila dibandingkan dengan orang dewasa.
Baca Juga: Budaya Sehat Jamu Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO
Sebab, anak-anak sudah dapat mendalami kosa kata lambang dan tata bahasa sebelum mereka mulai khawatir secara tidak perlu tentang sebab musabab dan hubungan-hubungan.”
Anak-anak diharapkan girang atau bersukacita belajar matematika. Mereka bisa menjadikan matematika sebagai hiburan atau pembuktian kebenaran meski jarang mutlak.
Kegembiraan dan nuansa hiburan matematika menghilang bila para pengajar di sekolah-sekolah tampil serius, kuno, dan keras.
Matematika bakal mengakibatkan anak-anak tersiksa, benci, pesimis, dan murung.
Baca Juga: Ini Dia Bakal Film Terbaru Iko Uwais!
Ingat matematika, ingat novel. Kita pernah mengalami masa mendebarkan saat novel berjudul Da Vinci Code terbit.