Di novel-novel, ia membuat teka-teki. Para penbaca ditantang memikirkan dan menemukan jawaban.
Dan Brown mungkin sedang “bermain matematika” di hadapan sidang pembaca sambil menuntun masuk ke perdebatan agama dan seni.
Baca Juga: Bertambah, Korban Meninggal Akibat Erupsi Gunung Marapi Capai 23 Jiwa
Kita kembali mengutip penjelasan David Bergamini: “Bagaikan batang kacang yang terus memanjang dalam dongeng, matematika pada abad XX terus bertumbuh tanpa henti.”
Ia tak mengalami guncangan dan kehebohan matematika abad XXI. Dan Brown menulis Da Vinci Code bukan untuk mengobarkan matematika atau membuktikan masa lalu sebagai bocah.
Ia berada dalam perkembangan matematika makin rumit dalam bahasa dan pengisahan.
Dulu, David Bergamini memastikan “matematika ada di tengah-tengah kesibukan kehidupan modern.”
Baca Juga: 22 Korban Meninggal Akibat Erupsi Gunung Marapi Teridentifikasi, Ini Daftarnya
Kini, orang-orang sudah khatam Da Vinci Code dan membaca biografi Dan Brown berhak mengatakan: “matematika itu pesona dunia.” Begitu.**
Artikel Terkait
Anika Gauja: Partisipasi Politik Pemuda Bukan Hanya Soal Hak Pilih
Dinyatakan Punah Pada 2020, Ikan Belida Chitala lopis Ditemukan Kembali
Konon Singkong Telah Dibudidayakan Manusia Sejak 100 Abad Lalu
8 Khasiat Biji Pepaya yang Sering Diabaikan Bahkan Dibuang