Sarapan Belum Jadi Kebiasaan Bagi Anak-Anak Indonesia

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Minggu, 20 Februari 2022 | 04:00 WIB
Ilustrasi anak sedang sarapan pagi. Sarapan belum menjadi kebiasaan bagi anak-anak Indonesia.  (freepik)
Ilustrasi anak sedang sarapan pagi. Sarapan belum menjadi kebiasaan bagi anak-anak Indonesia. (freepik)

TINEMU.COM - Sarapan masih belum menjadi kebiasaan di Indonesia, khususnya di kalangan anak-anak. Padahal, anak yang tidak memiliki kebiasaan sarapan akan kurang bisa berkonsentrasi saat belajar arena otaknya tidak mendapatkan cukup energi

Ahli Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., M.P.H., RD., mengatakan, hampir separuh anak-anak di Indonesia belum menjadikan sarapan sebagai suatu kebiasaan dengan berbagai alasan.

“Seperti keburu berangkat sekolah atau tidak sempat menyiapkan sarapan karena ibunya keburu berangkat kerja,” tutur Mirza dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu, 19 Februari 2022.

Baca Juga: Ketika Nasrudin Hoja Dikerjain Tetangga

Data Survei Diet Total (SDT) Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan tahun 2020 menunjukkan dari 25.000 anak usia 6-12 tahun di 34 provinsi terdapat 47,7 persen anak belum memenuhi kebutuhan energi minimal saat sarapan.

Bahkan, 66,8 persen anak sarapan dengan kualitas gizi rendah atau belum terpenuhi kebutuhan gizinya terutama asupan vitamin dan mineral.

Mirza menjelaskan anak usia sekolah membutuhkan 1.550 kalori per hari mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin serta mineral. Sementara itu, kebutuhan kalori saat sarapan tidaklah besar sekitar 300 kalori.

Baca Juga: Dave Grohl Siap Rilis Album Thrash Metal Minggu Depan

“Namun sebagian besar anak Indonesia gagal memenuhi kebutuhan kalori saat sarapan karena asupan gizi yang tidak seimbang,” imbuhnya.

Apabila kebutuhan kalori saat sarapan tidak terpenuhi akan berdampak pada fungsi otak dalam memori pelajaran di sekolah.

Anak yang tidak memiliki kebiasaan sarapan akan kurang bisa berkonsentrasi saat belajar arena otaknya tidak mendapatkan cukup energi. Selain itu, memengaruhi pertumbuhan dan status gizi anak.

Baca Juga: Aplikasi e-SPT Ditutup Mulai 28 Februari 2022, Bagaimana Lapor SPT? Simak Penjelasan DJP

Karena itu Mirza menenkankan edukasi sarapan menjadi penting. Penyediaan sarapan bagi anak dilakukan dengan menganut gizi seimbang.

“Pilih yang mudah disiapkan namun tetap memenuhi prinsip gizi seimbang. Contoh menu sederhana seperti nasi atau roti ditambah telor, buah dan susu ini sudah cukup memenuhi kebutuhan kalori,” terangnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X