Khothoh Syuraikhanah, Srikandi Mina Padi dari Panembangan

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Minggu, 27 Maret 2022 | 10:36 WIB
Penerapan sistem mina padi di Desa Panembangan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.  (kkp.go.id)
Penerapan sistem mina padi di Desa Panembangan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. (kkp.go.id)

TINEMU.COM – Hamparan padi di Desa Panembangan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tumbuh subur dengan daun bendera mulai menguning dan bulir penuh berisi. Di sekitarnya ikan-ikan nila hitam berenang dengan lincahnya. Petani di Desa Panembangan telah berhasil mengombinasikan konsep bertanam padi dengan budidaya nila.

Sebelumnya, petani Desa Panembangan hanya menggantungkan hidupnya dari menanam padi. Selain mampu mengurangi hama, praktik mina padi terbukti bisa menghemat pupuk sehingga lebih menguntungkan.

Keberhasilan mina padi di Panembangan seluas 25 hektare tak lepas dari jerih payah Srikandi penyuluh perikanan, Khothoh Syuraikhanah (42 tahun). Khothoh telah mengabdi sebagai penyuluh perikanan sejak 2016.

Baca Juga: Baru Diluncurkan! The New Sampoerna Mobile Banking

Hari-harinya disibukkan mendampingi pembudidaya dan pelaku utama sektor kelautan dan perikanan. Ia juga kerap pergi ke desa-desa untuk menyampaikan program pemerintah kepada masyarakat, termasuk di Mina Padi Panembangan.

Cerita Mina Padi Panembangan bermula pada program Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah. Sebagai koordinator penyuluh perikanan Banyumas, Khotoh secara cepat mengumpulkan seluruh tim untuk memetakan potensi binaan. Dari identifikasi lapangan, hamparan padi di Desa Panembangan yang digarap Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kridoyuwono dinilai tepat diajukan sebagai calon penerima bantuan.

Khotoh pun mulai menyosialisasikan program mina padi yang waktu itu rencananya akan direalisasikan di tahun 2020. Para anggota Pokdakan begitu antusias untuk menggarap mina padi. Namun, tak sedikit pihak yang meragukan kemampuan Khotoh dan kelompok dalam menggarap program pemerintah senilai Rp 1 miliar.

Baca Juga: Kondisi Pandemi Membaik, Menparekraf Sebut Konser Musik Sudah Bisa Digelar

Sebagai penyuluh perempuan, awalnya Khotoh kerap dipandang sebelah mata karena dianggap tidak akan lebih cekatan dari laki-laki. Namun, stigma tersebut tidak pernah ia gubris. Khotoh lebih memilih untuk fokus bekerja dengan segala upaya. Terlebih semangat teman-teman petani dan pembudidaya membuatnya optimis.

“Sebagai seorang penyuluh yang berpengalaman, saya yakin betul, Desa Panembangan ini potensial untuk digarap menjadi mina padi serta mina wisata. Nantinya akan ada multiplier effect yang berujung pada kesejahteraan masyarakat,” ucap Khotoh dikutip Tinemu.com dari laman kkp.go.id.

Naasnya pada Maret 2020, pandemi Covid-19 meluluhlantahkan seluruh sektor pembangunan. Program mina padi pun ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Secara terbuka, Khotoh menyampaikan kabar tersebut kepada anggota Pokdakan.

Baca Juga: Begini Cara Mencegah Pikun!

Penundaan program mina padi membuat anggota Pokdakan kecewa. Banyak di antaranya yang mencibir Khotoh dengan sebutan ‘pembohong’. Perasaan malu sempat merundung, namun Khotoh tetap tegar menghadapi situasi pilu.

“Sudah risiko saya sebagai penyuluh perikanan yang berhadapan langsung dengan masyarakat,” ucapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: kkp.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X