TINEMU.COM - Orang-orang bermasa lalu sebagai bocah biasa melahap buku-buku cerita. Mereka mungkin telat menggunakan kamus dan ensiklopedi.
Di Indonesia, ingatan daftar buku terbaca saat masih bocah memang fiksi. Di negara-negara jauh, bocah-bocah mungkin sudah berakraban dengan kamus dan deretan ensiklopedi dipengaruhi keluarga atau guru.
Rumah dihuni keluarga-keluarga Indonesia belum terjamin memiliki rak atau lemari buku. Pemilik koleksi buku kadang menuruti tema-tema kesukaan, belum terlalu berpikiran mementingkan deretan kamus beragam bahasa dan ensiklopedi.
Di industri perbukuan, kamus-kamus masih mungkin terbeli dengan harga terjangkau. Ensiklopedi teranggap mahal. Orang-orang berduit sekarung dulu jika menghendaki sekian jilid ensiklopedi menghuni rumah.
Baca Juga: Tips Sehat Saat Santap Makanan Khas Lebaran
Pada masa 1990-an, Durjana melihat sekian jenia ensiklopedi terkunci dalam lemari kaca. Lemari di perpustakaan. Pihak sekolah ingin buku-buku tebal itu awet, “terlarang” dipegang tangan murid-murid.
Di lemari, ensiklopedi tampak gagah dan bersih. Buku tak boleh dipinjam. Durjana memandangi saja, belu kepikiran suatu hari bernafsu membeli serial ensiklopedi.
Sekian jilid bakal mustahil terbeli berbarengan. Di pasar buku loak, ia mencicil membeli jilid-jilid tak urut atau tersedia di pedagang. Sekian tahun, ensiklopedi bisa lengkap.
Otak menghitung jumlah uang telah terberikan kepada pedagang. Pembelian mengesankan untuk ensiklopedi susunan Adinegoro, sejilid saja. Ensiklopedia berbahasa Indonesia terbitan masa 1950-an.
Tujuh jilid berharga mahal terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve berhasil dikoleksi dalam kondisi utuh dan bersih. Berat puluhan kilogram. Deretan ensiklopedi berada di rumah, tak cuma teringat dan terlihat di perpustakaan.
Baca Juga: Beginilah Masyarakat Menggunakan THR 2022 yang Dimilikinya!
Durjana melihat deretan ensiklopedi di halaman majalah Tempo, 3 November 1990. Satu jilid terbuka di meja. Tujuh jilid ditata rapi, berhiaskan jam dan bunga. Durjana tak mau capek berimajinasi makna kehadiran sekian benda di atas meja. Ia memikirkan ensiklopedi saja.
Durjana kaget membaca “best seller” dalam iklan. Buku sering laris di Indonesia itu buku pelajaran, novel, dan buku agama. Ensiklopedi dikabarkan “best seller”. Durjana curiga itu taktik penjualan ketimbang kebenaran dalam pasar buku di Indonesia.
Keunggulan ensiklopedi terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve: “Kalau anda memerlukan referensi yang lengkap dan terpercaya mengenai sejarah, seni, sastra, ekonomi, biologi, kedokteran, agama, astronomi, filsafat, fisika, geografi, kimia, komputer, matematika, psikologi, sosiologi, dan bidang pengetahuan lainnya, anda dapat menemukan dalam Ensiklopedi Indonesia ini.”
“Semua” ada di sana, di halaman-halaman dikerjakan para ahli beragam ilmu.
Artikel Terkait
Cara Mudah Transformasi Digital di Perguruan Tinggi ala Prof. Marsudi Kisworo
Utusan PBB Mami Mizutori Ikuti Simulasi Gempa dan tsunami SMPN 3 Kuta Selatan
Opini Bandung Mawardi: Kacamata, Iklan, A. Kasoem, Iksaka Banu
Tips Sehat Saat Santap Makanan Khas Lebaran