Berkah Tanam Lamtoro, Ibarat Temukan Emas di Tanah Tandus

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Minggu, 8 Mei 2022 | 14:06 WIB
Ketut Rajin petani dari Desa Sepayung, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa sedang memberi pakan lamtoro untuk ternak sapinya. Menurutnya, menanam lamtoro ibarat menemukan emas di tanah tandus. (Setiyo)
Ketut Rajin petani dari Desa Sepayung, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa sedang memberi pakan lamtoro untuk ternak sapinya. Menurutnya, menanam lamtoro ibarat menemukan emas di tanah tandus. (Setiyo)

TINEMU.COM - Tanaman lamtoro taramba kini menjadi harapan baru bagi banyak petani di Desa Sepayung, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahkan menanam lamtoro dibaratkan seperti menemukan emas di tanah tandus.

Hal itu dirasakan Ketut Rajin anggota Kelompok Ternak Gunung Lestari di Dusun Kembangsari, Desa Sepayung. Sejak menanam lamtoro di lahan seluas 1 hektare, ia mulai mengurangi lahan untuk menanam jagung hingga kemudian beralih menjadi peternak sapi. Ketut Rajin seperti menemukan emas di tanah tandus.

“Kita beralih dari petani jagung ke peternak karena di sini kemaraunya lebih panjang daripada penghujan jadi lebih cocoknya untuk menanam lamtoro. Ibaratnya emas di tanah tandus kata teman-kata yang lebih berpengalaman,” ungkap Ketut di kebun lamtoro miliknya, pada Selasa, 26 April 2022.

Baca Juga: Doctor Strange in the Multiverse of Madness: Kacaunya Dunia Paralel karena Naluri Keibuan

Kemarau yang lebih panjang membuat petani di Desa Sepayung hanya bisa menanam jagung sekali dalam setahun. Sejak menanam lamtoro taramba untuk pakan sapi, banyak petani di Desa Sepayung beralih menjadi peternak sapi.

Ketut Rajin pertama kali menanam lamtoro pada tahun 2019 setelah mendapatkan bibit dari penyuluh di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB. Lamtoro ini digunakan sebagai pakan untuk penggemukan sapi yang kandangnya ada di lahan tempat menanam lamtoro.

Saat menjadi petani, Ketut sudah memelihara sapi sebagai indukan dan belum ada target untuk penggemukan. Pemberian pakannya pun seadanya. Jika indukan sapi melahirkan, maka anak sapi akan dijual setelah dipelihara selama 1 tahun.

Baca Juga: Hydra X dan WIR Group Akan Hadirkan Solusi Fintech di Platfom Metaverse

Sejak menanam lamtoro taramba, Ketut mulai melakukan penggemukan sapi yang 100% diberi pakan lamtoro. “Untuk pengemukan kita beli bibit sapi bakalan berumur 1 tahun dengan harga Rp 5-6 jutaan. Setelah digemukkan selama 6-7 bulan, kita jual dengan harga Rp 10-11 jutaan,” tutur Ketut.

Dibandingkan dengan tanam jagung untuk lahan 1 hektare kurang lebih menghasilkan 5 ton. “Kalau harga sekarang sekitar Rp 5 ribu/kg hanya mendapatkan Rp 25 juta dan sekali tanam setahun. Kalau sapi, setahun dua kali kita bisa menggemukkan sapi,” terangnya.

Ketut mengungkapkan, untuk sapi yang belum terbiasa makan lamtoro harus diajarkan hingga terbiasa dan lahap makan lamtoro. Proses adaptasi biasanya sekitar 3-5 hari. Selanjutnya, setiap hari sapi bisa diberi makan lamtoro sekitar 10-15 kg untuk satu ekor sapi.

Baca Juga: Kisah Para Leluhur Raja Mataram (Bagian 2)

“Sejak menanam lamtoro kita tidak kekurangan pakan. Sebelumnya, saya harus keliling ngarit mencari pakan sapi,” ungkapnya.

Saat ini, Ketut memelihara sapi 4 ekor indukan dan menggemukkan 8 ekor sapi bakalan. Dari segi pakan, menurutnya, peggunaan lamtoro memberikan keuntungan besar. Selain tak perlu cari pakan ke berbagai tempat, pemberian pakan lamtoro juga lebih irit dan tak perlu dicampur pakan lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X