TINEMU.COM - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kini telah mewabah di Indonesia, mayoritas menyerang ternak terutama sapi. Penyakit ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan BRIN memiliki kapasitas untuk mendukung upaya pemerintah dalam pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia.
Dukungan tersebut dibuktikan dengan melakukan implementasi deteksi penyakit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia, studi epidemiologi, mengisolasi, mengkarakterisasi virus PMK dengan analisis molekuler dan sekuensing (whole genome sequencing).
Baca Juga: Muslimin Machmud, Guru Besar UMM: Bahasa Melayu Mampu Sebagai Bahasa Resmi ASEAN dan Internasional
“Selain itu untuk mengidentifikasi pengembangan vaksin dan berinovasi dalam perkembangan deteksi cepat penyakit kaki dan multi penyakit,” ucap Handoko dalam webinar Talk to Scientists bertema ‘Penyakit Mulut dan Kuku Hewan: Penelitian, Diagnosa dan Pengendaliannya’ pada Kamis, 19 Mei 2022.
Dia mengatakan PMK merupakan penyakit hewan yang sangat menular yang menyerang hewan berkuku belah, seperti sapi, kerbau, domba, kambing, babi, kijang/rusa, unta dan gajah, meskipun dilaporkan pada hewan lain seperti beruang.
“Hewan yang sakit akibat infeksi virus PMK menunjukkan gejala klinis patognomonik berupa vesikel/lepuh dan erosi di mulut, lidah, gusi, nostril, puting, dan di kulit sekitar kuku,” tambahnya.
Baca Juga: PLTMH Panji Muara, Pembangkit Listrik Hidro Pertama di Pulau Dewata
Badan Kesehatan Hewan Dunia atau Office des Internationale Epizootis (OIE) telah menempatkan penyakit ini pada Listed Diseases and Other Diseases of Importance atau terdaftar sebagai penyakit yang wajib dilaporkan oleh semua negara di dunia. Sehingga perlu ada perhatian pemerintah dalam pengendalian penyakit tersebut.
“Membutuhkan sekitar 9,9 triliun rupiah per tahun untuk mengendalikan penyakit mulut dan kuku di Indonesia, dan jumlah ini dapat meningkat di masa depan yang berdampak besar pada kerugian ekonomi berdasarkan sifat dan sebaran penyakit serta dampak kerugian yang ditimbulkannya,” tutur Handoko.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan Ni Luh Putu Indi Dharmayanti mengatakan wabah ini pertama kali ada di Indonesia yaitu di Malang. Selanjutnya, wabah menyebar ke daerah lain ke arah timur hingga Pantai Banyuwangi.
Baca Juga: Jokowi: Ojo Kesusu!
Pada 1889 wabah PMK melanda Jakarta, 1892 di Aceh dan 1906 terjadi di Medan dan Kalimantan. Pada 1907 tercatat 1.201 sapi di Pulau Jawa terserang PMK (Jakarta, Cirebon, Priangan, Pasuruan, Besuki, Banyumas, Kedu, Malang dan Madura).
“Pada 1974 Pemerintah telah memulai vaksinasi crash program untuk memberantas PMK dengan memprioritaskan daerah sumber ternak, seperti Bali, Sulawesi Selatan dan Jawa dengan vaksin BFS 01,” rinci Indi.
Artikel Terkait
Manfaatkan Fasilitas BRIN, PT. Kimia Farma Produksi Senyawa Bertanda dan Radiofarmaka
Respon Kasus Hepatitis Akut, BRIN Siap Kolaborasi Riset
Gerak Cepat Mentan SYL Cegah Penyakit Mulut dan Kuku di Jateng
Melalui INASA, BRIN Turut Tangani Urusan Keantariksaan Internasional
Program COREMAP Berakhir Juni 2022, BRIN Akan Bentuk Jejaring Pengelolaan Ekosistem Pesisir