Mengenal Bamboo Dome Tempat Santap Siang Pimpinan G20

- Jumat, 18 November 2022 | 10:25 WIB
Bamboo Dome menjadi lokasi Presiden Joko Widodo menikmati santap siang bersama para pemimpin G20. (Humas UGM)
Bamboo Dome menjadi lokasi Presiden Joko Widodo menikmati santap siang bersama para pemimpin G20. (Humas UGM)

TINEMU.COM - Bamboo Dome di Apurva Kempinski, Nusa Dua, Bali menarik perhatian di tengah perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Presidensi G20 Indonesia. Bangunan indah di tepi pantai ini merupakan lokasi Presiden Joko Widodo menikmati santap siang bersama para pemimpin dan delegasi G20.

Bamboo Dome merupakan mahakarya kolaborasi Elwin Mok, visual creative consultant KTT G20; Rubi Roesli, desainer Bamboo Dome; dan Ashar Saputra, pakar bambu dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ashar tidak menyangka sebelumnya bahwa ia akan dilibatkan dalam pembuatan Bamboo Dome ini. Berawal dari kontak teman penggiat bambu dari Bali yang menawarkan kerja sama dengan panitia nasional G20 dalam pembuatan lokasi jamuan makan para pemimpin dan delegasi G20.

Baca Juga: WIR Group Bersama Kadin Indonesia Hadirkan Kadinverse di Ajang B20

Tawaran ini bukan tanpa tantangan, perajin hanya memiliki waktu yang relatif singkat untuk menyiapkan lokasi yang estetik dan aman. Para penggiat, perajin bambu disediakan tiga minggu untuk menyelesaikan Bamboo Dome.

“Ini menuntut kerja sama yang intens antara arsitek, perajin bambu, dan saya untuk memastikan keamanannya sehingga harus dikawal dengan cukup ketat karena pekerjaannya cukup banyak dan harus zero tolerance terkait keamanan struktur bangunan,” papar Dosen Departemen Teknik Sipil FT UGM ini.

Ide pembuatan bangunan dengan bahan utama bambu ini adalah mencari sesuatu yang unik. Bambu dipilih karena memiliki keunikan sebagai bahan yang mudah dibentuk melengkung karena sifatnya yang lentur dan elastis. Disamping itu, bangunan bambu juga dikenal kuat atau tahan terhadap guncangan gempa.

Baca Juga: Inilah Makna dan Filosofi Logo Hari Guru Nasional Kemenag 2022

“Idenya dari para desainer itu adalah dimana di saat dunia itu senang memilih yang artifisial, justru Bali masih memiliki yang original. Bambu jadi pilihan karena sudah menjadi keseharian masyarakat Bali,” terangnya.

Halaman:

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Humas UGM

Tags

Artikel Terkait

Terkini

B Rahmanto: Nama dan Buku

Minggu, 8 Januari 2023 | 11:47 WIB
X