TINEMU.COM- Film ini entah kenapa kurang mendapat pemberitaan yang memadai walau temanya unik, yaitu peristiwa di balik kelambu terbunuhnya John Lennon di New York, 1980. Dengan judul dan tema yang menggugah, film ini mengulik saat-saat dramatis menjelang dan sesudah kematian rockstar tersebut dari Alan Weiss, produser siaran berita salah satu stasiun televisi-orang pertama yang mengetahui terbunuhnya sang legenda.
Meski hanya mengulik secuil peristiwa saat itu bukan berarti film jenis ‘dokumenter-drama’ (docudrama) ini menjadi istimewa dengan mengangkat sepotong kisah yang benar-benar terjadi. Dikisahkan, Alan Weiss pulang tengah malam dari kantornya yang sumpek sambil mengendarai sepeda motornya menuju apartemennya. Naas, sepeda motornya tertabrak mobil yang sedang melaju kencang. Luka Weiss cukup berat, walau ia tak sampai pingsan.
Adegan berpindah ke sebuah apartemen di New York dengan hingar bingar bunyi sirene ambulans dan mobil polisi. Ada orang tertembak dan polisi berhasil meringkus si penembak. Adegan lalu berpindah ke Weiss, di mana ia dalam kondisi luka parah ketika menuju Ruang Gawat Darurat di RS Rooselvelt, Rumah Sakit yang sama dimana di situ para dokter jaga sedang berusaha menyelamatkan nyawa pria tak dikenal yang baru saja tertembak.
Baca Juga: Kongres Bahasa Indonesia XII: Literasi dalam Kebinekaan untuk Kemajuan Bangsa
Weiss sambil sesekali mengerang kesakitan dengan sisa-sisa kesadarannya menunggu di atas ranjang, sementara para dokter jaga akhirnya terlebih dulu menyelamatkan pria yang sekarat.
Kamera beralih ke bilik operasi yang riuh dimana dokter tengah berusaha keras mencegah lebih banyak keluarnya darah dari pria malang berkacamata itu. Menit-menit berlalu yang menegangkan nyawa si pria tak tertolong. Para dokter, perawat, dan asistennya tertunduk lesu. Namun mereka terkejut tatkala menggeledah isi dompetnya, untuk mendata identitasnya, pria itu ternyata John Lennon!
Kasak-kusuk mereka tak sengaja terdengar di bilik lain oleh Weiss. Naluri wartawan Weiss terusik. Apalagi dari bilik operasi ia melihat petugas satpam dan polisi yang masih terkaget-kaget menyebut nama Lennon. Juga, samar-samar ia melihat Yoko Ono sedang menangis di ruangan lain. Sedangkan Weiss sendiri sedang dalam kondisi parah, ia tak bisa bangun dari ranjang untuk menelepon kantor beritanya. Dengan sigap ia mencatat apa yang didengarnya lalu menyuruh petugas kebersihan Rumah Sakit untuk menelepon kantornya.
Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (211)
Tapi, perjalanan sebagai “pembawa berita pertama kematian John Lennon” tak semudah itu. Satpam Rumah Sakit yang tahu Weiss adalah wartawan berusaha mencegah agar berita yang menurutnya “belum resmi” ini tidak bocor terlebih dahulu agar ketenangan penghuni Rumah Sakit tak terganggu kedatangan wartawan dan masyarakat sekitar. Ini cukup beralasan dan pasti akan heboh jika tahu yang meninggal tertembak baru saja adalah si pelantun mega hits “Imagine” itu!
Sutradara Jeremy Profe dan penulis cerita Walter Vicent sangat lihai mengeksekusi film ini sehingga hasilnya cukup memuaskan walau ditonton pun bukan fans The Beatles. Konon proses pengerjaannya cukup rumit karena Profe sampai berkali-kali merombak cerita agar tak terjerembab menjadi film investigasi penembakan John Lennon.
“John Lennon, Yoko Ono, dan The Beatles, ah, sudah ribuan orang membuatnya, kami harus jeli mengolahnya dengan segala data yang kami dapat,” papar Profe kepada majalah Billboard, Oktober 2016, ketika ditanya alasannya mengangkat sosok John Lennon.
Dan akhirnya dengan sudut pandang yang tak biasa, yaitu mengangkat sekelumit cerita dari peristiwa bersejarah besar, usaha Jeremy Profe dan kawan-kawannya membuahkan hasil. Film ini dipuji-puji dalam even Boston Film Festival, Highfalls, dan Newport Beach Film Festival-ketiganya festival film indie Amerika. Selain sukses dalam kompetisi film indie, film ini pun juga mendapat kehormatan ditayangkan pada acara memperingati kematian John Lennon setiap tanggal 7 Oktober sejak tahun 2016.