Pura Meru Cakranegara dan Kerukunan Beragama di Lombok

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Kamis, 17 Februari 2022 | 07:24 WIB
Pura Meru Cakranegara merupakan tempat peribadatan umat Hindu sekaligus objek wisata religius di Lombok, Nusa Tenggara Barat. (Kemenparekraf)
Pura Meru Cakranegara merupakan tempat peribadatan umat Hindu sekaligus objek wisata religius di Lombok, Nusa Tenggara Barat. (Kemenparekraf)

TINEMU.COM - Lombok, pulau terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB) menyimpan kekayaan budaya masa lalu yang masih terjaga dengan baik. Pura Meru Cakranegara, salah satunya. Tempat peribadatan umat Hindu seluas 8.874 meter persegi ini merupakan pura terbesar di Pulau Seribu Masjid.

Pura Meru terletak di Jl Selaparang, Kelurahan Cakranegara Timur, Kecamatan Cakranegara, Kabupaten Lombok Barat. Posisinya hanya sekitar 200 meter di seberang Taman Mayura, sebuah tempat wisata berbentuk kolam raksasa seluas hampir tiga hektare.

Tempat itu dapat ditempuh selama 40 menit berkendara dari Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Praya. Atau sekitar satu jam dari destinasi pariwisata superprioritas The Mandalika di Lombok Tengah.

Baca Juga: Nasrudin dan Bunyi Uang yang Membebaskan Pengemis

Pura dengan gerbang masuk utama bernama Kori Agung setinggi delapan meter terbuat dari bata merah ini, selain sebagai tempat peribadatan, juga menjadi objek wisata religius.

Pura Meru ditetapkan seabgai bangunan cagar budaya nasional pada 2007. Pura dan Taman Mayura menjadi saksi bisu masa kejayaan Kerajaan Karangasem Bali yang pernah menguasai Lombok. Pura Meru dibangun pada 1720 oleh I Gusti Anglurah Made Karangasem, wakil Kerajaan Karangasem Bali di Lombok.

Bangunan ini dibuat untuk tempat persembahyangan masyarakat Hindu dari kerajaan-kerajaan kecil di seputar Mataram yang berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Karangasem. Dalam Babad Lombok disebutkan, Agama Hindu masuk ke Lombok pada 1691 ketika seluruh penduduknya yang merupakan suku Sasak, masih menganut Islam.

Baca Juga: Musdalifah Basri: Kok Tega Perempuan ke Sesama Perempuan Ngomong Gitu?

Pura ini dinamai Meru, singkatan dari Semeru, gunung tertinggi di Jawa Timur dan dianggap suci oleh Kerajaan Singosari yang menjadi leluhur I Gusti Nglurah Made Karangasem. Bangunan pura juga didedikasikan untuk tiga dewa utama umat Hindu, Brahma, Siwa, dan Wisnu dalam bentuk tiga meru atau menara bersusun.

Menara ini berbentuk limas dengan atap tumpang atau bersusun dan akan semakin mengecil di bagian puncaknya. Model atapnya merupakan simbolisasi tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung (alam besar atau makrokosmos) dan bhuana alit (alam kecil atau mikrokosmos), dari bawah ke atas.

Meru Siwa lebih tinggi dibandingkan dua meru lainnya. Berdiri di atas pondasi bata setinggi 3 meter dengan ukuran 5 meter x 5 meter, Meru Siwa menjulang setinggi 18,26 meter, beratap ijuk dan bersusun 11 lapis. Ia diapit oleh Meru Brahma dan Wisnu yang beratap genting dengan tinggi bangunan lebih pendek, sekitar 15 meter dan bersusun sembilan.

Baca Juga: Viral! Video Mobil Grab Full Doraemon

Ketiga meru tersebut mewakili tiga gunung yang dianggap suci oleh pemeluk Hindu. Meru Brahma mewakili Gunung Agung di Bali, Siwa mewakili Gunung Rinjani di Lombok, dan Wisnu diwakili oleh Gunung Semeru di Jawa Timur.

Ketiga meru tersebut memiliki arti simbol warna yang bermakna. Pada perayaan piodalan (acara untuk mengingat lahir kembalinya pura), setiap meru akan dihiasi dengan kain dengan warna yang berbeda. Meru Brahma akan dihiasi kain merah yang berarti api, simbol kematian umat Hindu yang dikremasi menggunakan api.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X