TINEMU.COM - Setelah mengucapkan kata-kata tadi, tanpa terasa Minghui jadi terkenang kepada kejadian di masa lampau dan merisaukan nasibnya sendiri, ia menjadi muram.
Kalusi menjadi bingung, katanya, “He, apa-apaan kalian berdua ini? Nona Nyo agaknya hanya bergurau, sebaliknya Tuan Putri malah menasehati dia dengan sungguh-sungguh.”
Untuk menutupi kekikukan kedua pihak, segera Nyo Wan berkata dengan tertawa, “Benar, aku cuma omong kelakar saja. Banyak terima kasih atas perhatian Tuan Putri. Kini bicara urusan yang betul saja. Kukira bukanlah cara yang baik bila mana kalian terluntang-luntung di dunia kangouw. Sebenarnya aku ada suatu tempat bagus, cuma entah Tuan Putri sudi ke sana atau tidak?”
“Yang kuharap hanya tempat berteduh saja, masak pakai sudi atau tidak?” kata Minghui.
Baca Juga: KOPISISA Purworejo Luncurkan Buku Sekop(y)or Puisi Humor
“Aku ada seorang teman karib, dia adalah Cecu suatu pangkalan pegunungan, jika Tuan Putri mau bernaung ke sana, rasanya pasti akan aman,” kata Nyo Wan.
Minghui menjadi tertarik, pikirnya, "Ceceu bukankah nama lain daripada kepala bandit?”
Ia coba tanya, “Cecu itu laki-laki atau perempuan?”
Nyo Wan dapat menerka pikiran Minghui, sahutnya dengan tertawa, "Perempuan. Meski dia seorang perempuan kalangan Lok-lim, tapi sama sekali berbeda daripada kawanan bandit umumnya. Mungkin anak buahnya jauh lebih berdisiplin daripada prajurit-prajurit kalian.”
“Jika ada seorang ksatria wanita begini hebat, baik juga aku berkenalan dengan dia,” ujar Minghui dengan tertawa.
“Supaya Tuan Putri maklum , kawanku ini bernama To Hong, dia adalah putri To Pek-seng, To-tayhiap yang terkenal itu,” tutur Nyo Wan.
“Mungkin Tuan Putri pernah mendengar nama To-tayhiap bukan?”
Baca Juga: One More Time dari Blink 182 Sarat Emosi dan Personal
Minghui terkejut, sahutnya, "Setahuku, To-tayhiap pernah membikin geger negeri Kim, kemudian lari ke Mongol, koksu Kerajaan Kim, yaitu Yang Thian-lui sendiri telah menguber-ubernya ke negeri kami. Waktu itu kami belum perang dengan Kim, maka Yang Thian-lui mendapat bantuan busu ayah baginda dan To Pek-seng telah dibinasakan di padang pasir. Kalau nona To itu nanti mengetahui diriku adalah Putri Mongol, mungkin dia akan anggap aku sebagai musuhnya.”
“Nona To itu cukup bijaksana dan dapat membedakan dengan jelas antara kawan dan lawan,” kata Nyo Wan.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (193)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (194)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (195)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (196)