Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (195)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 23 September 2023 | 09:00 WIB
cover cerbung (Istimewa)
cover cerbung (Istimewa)

TINEMU.COM - Nyo Wan bertempur dengan cepat dan lincah, sekaligus ia telah melancarkan belasan jurus serangan sehingga Ciok-pangcu terdesak mundur berulang-ulang, namun sepasang Boan-koan-pit nya juga dapat bertahan dengan rapat sehingga sukar pula bagi Nyo Wan untuk melukainya.

“Kurang ajar, bangsat cilik ini boleh juga,’ seru Him-cengcu. “Ciok-losam, biar kubantu kau. Bangsat cilik ini menabas kutung dua jariku, aku harus balas kutungi dua lengannya.”

Habis berkata ia terus menyiapkan goloknya yang tebal, tapi sebegitu jauh ia tidak lantas maju. Rupanya ia sudah jeri setelah kedua jarinya ditabas putus oleh Nyo Wan, dia gembar
gembor hanya untuk menutupi rasa malunya saja.

“Tidak perlu berkaok,” kata Ho Kiu-kong. “Silahkan Him-cengcu melihat keluar apakah ada begundal bangsat cilik ini atau tidak, urusan di sini serahkan padaku saja.”

Sudah tentu hal ini kebetulan sekali buat Him-cengcu, segera ia mengiyakan terus lari ke luar.

Ho Kiu-kong lantas mengeluarkan cambuknya, serunya, “Kepung dia, tangkap hidup-hidup!” Berbareng cambuknya lantas berputar dengan kencang, segera ia mendahului menerjang maju untuk membantu Ciok-pangcu sebelum kawan-kawannya mengerubut maju.

Saat itu Ciok-pangcu lagi kelabakan di bawah serangan Nyo Wan yang gencar dan tak bisa menghindar lagi, terdengar suara “trang”, senjata kedua orang berbenturan, lelatu api meletik, Boan-koan-pit Ciok-pangcu tergumpil, bahkan pedang Nyo Wan terus melingkar balik untuk memapak cambuk Ho Kiu-kong yang datang menyambar, “krek’, ujung cambuk lawan tertebas sepotong.

Kiranya pedang yang digunakan Nyo Wan ini adalah pedang pusaka pemberian putri Minghui, tajamnya dapat memotong besi seperti merajang sayur.

Keruan Ho Kiu-kong terkejut, serunya: “Kau terhitung kawan dari garis mana? Lekas katakan supaya tidak bikin susah sendiri!” Karena melihat seorang bocah ingusan yang bermuka buruk bisa memiliki pedang pusaka sebagus itu dengan ilmu pedang yang hebat pula, maka ia menjadi curiga dan tidak dapat meraba asal usul Nyo Wan.

Lebih dulu Nyo Wan menyerang tiga kali, habis itu baru menjawab, “Aku adalah putra ibu pertiwi sejati, kaum pengkhianat seperti kalian jangan harap akan berkawan dengan diriku.”

“Kurang ajar!” damprat Ho Kiu-kong dengan gusar. “Anak ingusan macam kau, memangnya kau kira aku jeri padamu.”

Permainan cambuk Ho Kiu-kong cukup lihai juga, setelah kecundang satu kali, kini ia putar cambuknya dengan lebih hidup laksana ular, maka sukar bagi Nyo Wan untuk menebas cambuknya pula. Apa lagi sekarang kawan-kawannya juga mengerubut maju, mereka telah mengepung dari berbagai jurusan, dengan satu lawan lima, Nyo Wan menjadi kerepotan.

Untung pedang Nyo Wan cukup membikin jerio Ho Kiu-kong, kalau tidak melalui Ho Kiu-kong dan ciok-pangcu berdua saja sudah cukup untuk mengalahkan Nyo Wan.

Melihat gelagat jelek, segera Nyo Wan ganti siasat bertempur, ia keluarkan ilmu pedang yang sukar diduga musuh, mendadak serang sini, lalu tusuk sana, ia sengaja membikin bingung musuh agar mereka harus berjaga diri masing-masing.

Dengan cara begitu untuk sementara Nyo Wan dapat bertahan. Akan tetapi lama-lama ia menjadi lemas, maklum satu lawan lima.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X