Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (202)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 30 September 2023 | 09:00 WIB
Cerbung Pahlawan Padan Gurun (Istimewa)
Cerbung Pahlawan Padan Gurun (Istimewa)

TINEMU.COM - “Baik, akan kunyanyikan suatu lagu rakyat padang rumput kami sebagai doa kami agar engkau lekas bertemu kembali dengan kekasihmu,” kata Kalusi dengan tulus hati.

Kemudian Kalusi menarik Akai, katanya, ‘Marilah kita nyanyi bersama!”

Segera ia memetik tombra dan mulai menyanyikan suatu lagu rakyat yang peuh perasaan sehingga Nyo Wan terkesima.

“Banyak terima kasih, Kalusi, hebat sekali nyanyianmu,” puji Nyo Wan.

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba ada orang menyambung, "Ya, sungguh nyanyian yang merdu, memang tidak omong kosong ‘si kenari dari padang rumput."

Baca Juga: Lantunan Buku Harian Dido

Lalu seorang lagi berkata, ‘Mereka ternyata masih di sini.’

Maka masuklah empat orang, kepalanya adalah Ho Kiu-kong, orang kedua adalah wanita tua, orang ketiga busu Mongol, yaitu orang yang memuji nyanyian Kalusi tadi, dan orang yang jalan paling belakang adalah pemuda berusia dua puluhan.

Melihat orang terakhir ini, Nyo Wan terperanjat. Kiranya pemuda ini bukan lain daripada Yang Kian-pek, putera Yang Thian-lui daripada kerajaan Kim.

Pada malam itu Yang Kian-pek dan seorang busu Mongol mendatangi rumah Li Su-lam buat mencuri kitab pusaka, kebetulan Bing-sia juga datang ke sana hendak mencari Li Su-lam, di belakang kediaman keluarga Li itulah kedua orang kepergok dan terjadi pertempuran sengit, Bing-sia hampir- hampir kalah, untung Li Su-lam dapat mengalahkan busu Mongol dan kemudian membantu Bing-sia membikin Yang Kian-pek ngacir.

Baca Juga: Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (7)

Malam itu kebetulan Nyo Wan juga sampai di sana, ia sembunyi di dalam semak-semak pohon sehingga dapat menyaksikan semua kejadian itu. Maka Nyo Wan dapat mengenali Yang Kian-pek, menyusul iapun dapat mengenali busu yang datang bersama Ho Kiu-kong sekarang ini juga sama dengan busu Mongol tempo hari itu.

Ke empat orang yang datang itu ada tiga orang dikenal Nyo Wan, hanya istri Ho kiu-kong saja ia belum mengenalnya. Keruan ia terkejut, pikirnya, “Ho Kiu-kong datang kembali, tentu dia ada maksud buruk. Kepandaian Yang Kian-pek ini tidak lebih rendah daripada engkoh Lam, aku sendiri pasti bukan tandingannya. Ho Kiu-kong dan busu Mongol itupun tidak lemah, ditambah lagi seorang nenek yang belum diketahui betapa tinggi ilmu silatnya, mungkin Akai juga belum mampu melawannya.”

Belum lenyap pikirannya, busu Mongol itu sudah berdiri berhadapan dengan Minghui, dia memberi hormat dan berkata, "Khan agung Ogotai dan Mangkubumi Dulai mengharapkan pulangnya Tuan Putri!”

Baca Juga: Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (6)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X