TINEMU.COM - Begitulah Minghui menjadi marah kepada Busa dan mendamprat, "Jangan kau menggertak aku dengan nama Khan, kau pulang saja dan katakan padanya bahwa aku tidak ingin menjadi Tuan Putri segala, sejak kini aku tidak di bawah perintah mereka dan merekapun tidak perlu urus diriku.”
Busa memperlihatkan sikap serba susah, katanya, "Tuan Putri boleh membangkang perintah Khan Agung, tapi hamba betapa pun tidak berani.”
“Lalu kau mau apa?” jengek Minghui.
“Harap Tuan Putri pulang saja!” kata Busa sambil melangkah maju, segera ia bermaksud menarik Minghui.
“Kau berani kurang ajar!” bentak Minghui.
Dengan cepat luar biasa, mendadak terdengar suara “bluk” yang keras, tahu-tahu Busa telah kena dibanting oleh Akai.
Busa tahu Akai adalah ahli gulat terkemuka di Mongol, sebenarnya dia sudah siap-siap, tapi tetap tak terhindarkan bantingan Akai itu.
Setelah merangkak bangun dengan gusar Busa membentak, “Rupanya kalian berdua ini yang telah menyelewengkan Tuan Putri, kalian harus digiring pulang juga!”
Sekali putar segera ia menerjang, tapi yang di arah ternyata Kalusi.
Baca Juga: KOPISISA Purworejo Luncurkan Buku Sekop(y)or Puisi Humor
Akai telah memakai peraturan gulat di kalangan jago Mongol, ia pentang kedua tangan dan menantikan serangan balasan Busa, siapa tahu yang diterjang Busa justru adalah Kalusi, hal ini sungguh tak terduga oleh Akai.
Syukur Nyo Wan keburu mengebut dengan lengan bajunya sambil membentak, ‘Bangsat tidak tahu malu, rebahlah!”
Di bawah lengan bajunya jarinya terus menotok pula hiat-to di bawah iga lawan.
Meski kepandaian Busa tidak lebih tinggi daripada Nyo Wan, tapi dia tergolong jago kemah emas, dengan sendirinya tidak lemah kepandaiannya. Dia memiliki ilmu Tiat-poh-sam, ilmu kekuatan otot dan kulit, meski Hiat-to ditotok, dia hanya merasakan kesemutan saja dan tidak sampai roboh.
Dalam pada itu Akai sudah lantas menubruk maju, dampratnya dengan gusar, "Percuma kau sebagai jago kemah emas, kalau berani bertandinglah dengan aku, mengapa menyerang seorang perempuan yang lemah?”
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (193)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (194)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (195)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (196)