TINEMU.COM - “Permulaan tahun ini aku membawa anak Wan pergi ke Siau-kim-jwan untuk menemui seorang Supeknya, guru Wan-ji adalah Bu-siang Sin¬ni, ketua Go-bi-pay sekarang, tapi paman gurunya itu tinggal mengasingkan diri di Jing-tiok-lim di daerah Siau-kim-jwan. “Keberangkatanku itu tidak terjadi apa-apa, tapi waktu pulang, ketika lewat di Jing-liong-kang yang tempatnya berbahaya itu telah ketemu dengan Tin-lam-jit-hou (tujuh harimau dari Tin-lam (Yunan) Selatan). Ketujuh orang itu adalah bandit terkenal di daerah Tin-lam, mereka angkat saudara dan menyebut diri mereka sebagai tujuh harimau. Entah mengapa merekapun datang ke Siau-kim-jwan dan kebetulan kepergok di tengah jalan.
Lalu, lanjutnya, “Aku memang ada sedikit perselisihan dengan Toan Tiam-jong, kepala dari Tin-lam-jit-hou itu, kini kepergok ditengah jalan sudah tentu sukar menghindarkan pertarungan sengit. Aku sudah melukai dua orang diantara mereka, sebaliknya kena disambit senjata rahasia berbisa oleh Toan Tiam-jong, di bawah kerubutan mereka, akhirnya aku terkepung dan sukar meloloskan diri. Pada saat yan gawat itu, aku sudah nekat akan mengadu jiwa dengan mereka, tiba-tiba terdengar suara derapan kaki kuda, datanglah seorang penolong ksatria muda yang bernama Kok Ham-hi, yaitu tamu yang datang tadi.”
“Kok Ham-hi?” diam-diam Bing-sia mengulangi nama itu didalam hati.
“Aneh, belum pernah terdengar nama ini. Mengapa seorang ksatria muda begini tak pernah kudengar dari cerita ayah? Apakah ayah juga tidak mengenalnya?”
“Ilmu silat pemuda she Kok itu sangat hebat,” demikian Giam Seng-to melanjutkan, “Dengan ilmu pedang dan pukulannya dia melukai pula dua orang diantara Tin-lam-jit-hou, jadi sudah lebih separuh di antara ketujuh orang itu sudah terluka, sisanya merasa tidak sanggup melawan lebih jauh, terpaksa mereka melarikan diri dengan membawa kawan-kawannya yang luka. Ai, sungguh memalukan jika dipikir. Aku sudah malang melintang seumur hidup di dunia kangouw, siapa yang tahu di waktu tua harus menerima budi pertolongan dari seorang muda.”
“Bagaimana asal usul orang itu?” tanya Bing-sia.
“Waktu itu aku terluka senjata rahasia berbisa sehingga tidak sempat bicara dengan dia,” sahut Giam Seng-to. “aku cuma tanya namanya, lalu mengundangnya kemari untuk bertemu kembali. Kedatangannya hari ini adalah untuk memenuhi undanganku itu.”
“Ya, akupun ingin tanya padamu, apakah kini kau sudah tahu asal usulnya?” sela Giam-hujin.
“Dan apa pula maksud tujuan kedatangannya hari ini? Inginkan balas budi darimu atau ada kehendak lain?”
“Semula anak Wan ikut hadir, khawatir timbulkan salah paham, aku merasa tidak enak untuk tanya asal usulnya,” tutur Giam Seng-to. “Kemudian setelah Wan-ji mengundurkan diri, dalam pembicaraanku dengan dia, rasanya kurang cocok, tidak lama kemudian ia pun terburu-buru mohon diri, maka kembali aku tidak sempat menanyai dia.”
Dengan rasa ingin tahu Bing-sia menyela pula, “Jika orang ini pernah membantu kesukaran paman, pada saat berbahaya, mengapa dalam pembicaraan kalian terasa tidak cocok pula?”
“Sebagai seorang yang merasa hutang budi, undanganku padanya agar berkunjung ke sini adalah karena aku ingin tahu apakah dia pun ingin bantuanku untuk menyelesaikan sesuatu,” tutur Giam Seng-to.
“Tak kuduga, setelah mengetahui maksud tujuan kedatangannya, aku sendiri menjadi serba susah. Terpaksa aku memberi gambaran secara samar-samar bahwa persoalan yang dia inginkan terpaksa tak bisa kuterima.”
“Dia inginkan apa darimu?” tanya Giam-hujin.
“Dia tidak langsung memohon padaku, soal demikian memangnya juga tidak leluasa dikatakan langsung padaku olehnya sendiri,” sahut Giam Seng-to dengan ogah-ogahan untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (207)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (208)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (209)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (210)