Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (208)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Jumat, 6 Oktober 2023 | 09:00 WIB
COVER CERBUNG  (Playground AI x Stable XL)
COVER CERBUNG (Playground AI x Stable XL)

TINEMU.COM - Setelah tergeliat dan berdiri tegak lagi, orang berkedok tadi lantas berkata, "O, pahamlah aku. Mungkin Ci In-hong yang kau maksudkan adalah murid Hoa Thian-hong bukan? Tentunya dia tidak cocok dengan perbuatan kalian, betul tidak?”

Dengan percobaan pukulan tadi Yang Kian-pek telah dapat menguji Thian-lui-kang lawan tidak banyak selisih jauh dengan kepandaian sendiri, rasanya malah lebih rendah sedikit daripada Ci in-hong. Tapi cara pihak lawan menyambut pukulannya tadi ternyata cukup lihai.

Yang Kian-pek menjadi ragu-ragu apakah benar orang ini adalah Ci in-hong seperti sangkaannya?

“Seorang laki-laki tidak perlu main sembunyi-sembunyi, jika kau bukan Ci In-hong, lalu siapa kau? Katakan saja!” bentak Yang Kian-pek.

“Hm, kau sendiri berbuat hal-hal yang kotor, apakah kau ingin kubongkar tingkah lakumu yang busuk itu?” jawab orang itu.

“Sekarang aku tidak ingin beritahukan siapa diriku, soalnya aku belum mau membinasakan kau. Kelak kau sendiri tentu akan paham. Kini aku Cuma ingin tanya padamu, kau mau enyah dari sini atau tidak? Kalau tidak jangan kau salahkan tanganku yang tidak kenal ampun ini!”

Dari malu, Yang Kian-pek menjadi murka, bentaknya pula, "Jika kau adalah murid perguruan kita, kau seharusnya tahu ayahku adalah ciangbunjin, kau berani bersikap kurang ajar padaku?”

“Hm, kau masih berani bicara tentang perguruan segala,” jengek orang itu. “Coba kau jawab dulu, bagaimana bunyi pasal pertama daripada peraturan rumah tangga perguruan kita?”

Menurut peraturan rumah tangga yang ditetapkan oleh cikal bakal perguruan Yang Thian-lui dahulu, di antara sepuluh pasal itu, pasal pertama itu menyatakan bahwa setiap orang yang mengkhianati negara dan takluk pada musuh, maka setiap anak murid perguruan boleh membunuhnya.

Pasal kedua juga menyatakan siapa yang mengkhianati perguruan dan membangkang perintah guru dihukum mati. Dengan pertanyaan orang berkedok tadi, jelas dia memang benar orang seperguruan dengan Yang Kian-pek.

Yang Kian-pek menjadi lebih malu dan tambah gusar pula, sahutnya, “Peraturan apa segala, ayahku adalah pejabat ketua sekarang, apa yang dia ucapkan adalah peraturan. Kau berani menggertak aku dengan peraturan perguruan apalagi?”

“Tutup bacotmu!” bentak orang itu dengan sinar mata yang tajam.

“Kalian ayah dan anak menjual negara untuk kepentingan pribadi, mengkhianati perguruan dan lupa pada ajaran orang tua, masakah kau punya harganya buat bicara sesama perguruan dengan aku?”

Sudah tentu Yang Kian-pek tidak mau tunduk, apa lagi dia sudah biasa malang melintang, segera ia menubruk maju pula dengan menggerang murka. Di antara angin pukulan dan sambaran pedang, mendadak Yang Kian-pek mencengkeram pundak lawan. Tapi orang berkedok sempat menghindar terus balas memukul.

“Blang”, kembali kedua tangan beradu, sekali ini Yang Kian-pek tergetar mundur lebih jauh lagi. Tanpa ayal orang berkedok itu lantas menubruk maju pula, karena kerepotan melayani berondongan serangan lawan, terpaksa Yang Kian-pek mengadu tangan lagi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X