Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (209)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 7 Oktober 2023 | 09:00 WIB
COVER CERBUNG  (Playground AI x Stable XL)
COVER CERBUNG (Playground AI x Stable XL)

TINEMU.COM - Tidak dapat mengalahkan orang berkedok itu, ditambah lagi Nyo Wan juga siap menghadapinya disamping, mau tak mau Yang Kian-pek menjadi gugup, ia pikir kalau terjadi kerubutan, mungkin dirinya sukar meloloskan diri. Paling selamat sekarang kabur saja lebih dulu.

Begitulah segera ia pura-pura menyerang, habis itu mendadak ia melompat mundur terus melarikan diri.

“Hm, hari ini biarlah aku mengampuni kau, semoga kau pulang ke rumah merenungkan kembali perbuatanmu yang durhaka itu!’ jengek orang berkedok.

Setelah musuh lari, Nyo Wan dan Akai lantas maju mengucapkan terima kasih.

“Sesama orang persilatan, adalah pantas kalau saling membantu,” kata si orang berkedok dengan rendah hati.

“Oran gagah, sungguh orang gagah!” puji Akai sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Pembesar kami seringkali mengatakan orang Han licik, ternyata kami telah tertipu. Baru sekarang aku mengetahui bahwa orang Han adalah sahabat baik sejati. Padahal kita tidak pernah saling kenal, tapi kau telah sudi menyelamatkan jiwaku.”

Untuk menghilangkan curiga orang, segera Nyo Wan menambahkan, “Sobat ini meski kawan dari Mongol, tapi dia tidak sudi jual nyawa bagi Khan Mongol, dia lebih suka lari ke sini.”

“Aku tahu,” kata orang berkedok. “Percakapan kalian dengan kedua bangsat tadi sudah kudengar semua. Orang Mongol juga sama dengan orang Han kita, ada orang baik dan ada orang jahat.”

Akai sangat senang, serunya pula, "Orang gagah, apakah kau sudi bersahabat dengan diriku?”

“Tentu saja, mengapa tidak,’ sahut orang berkedok.

“Aku bernama Akai dan kau siapa?” tanya Akai.

“Nama cuma sebagai tanda pengenal, boleh kau panggil aku orang berkedok saja,” ujar orang itu. “Yang pasti, biarpun namaku si kucing atau si anjing tentu pula kau sudi bersahabat dengan aku bukan?”

Setelah berkelana sekian lamanya, Nyo Wan tahu sedikit pantangan-pantangan orang kangouw, ia menduga orang berkedok ini tentu ada urusan yang sukar diterangkan, makanya tidak mau memberitahukan namanya kepada orang lain.

Akai tampak manggut-manggut, katanya, "Benar juga ucapanmu. Banyak orang Mongol kami yang berpangkat pakai nama yang indah didengar, tapi sembilan di antara sepuluh orang adalah
orang-orang busuk.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X