TINEMU.COM - Ia membuat tulisan tangan. Diri bersama kertas. Tangan itu gemetaran, berkeringat, atau ringan.
Benda digerakkan menghasilkan kata-kata. Semula, tulisan tanpa maksud terbaca orang atau terbit di media cetak. Kita mengetahui itu catatan harian.
Penulis di kertas itu bernama Ahmad Wahib. Tata cara itu berbeda saat ia bekerja di Tempo.
Di hadapan, ia memberi jari-jari di mesin tik. Foto saat ia mengetik itu menjadi kenangan bersama.
Ahmad Wahib pamit saat masih muda. Ia meninggalkan tulisan-tulisan menimbulkan kagum, kecewa, marah, benci, prihatin, murung, gairah, dan lain-lain.
Baca Juga: Review Buku: The Book of Lost Things, Menguak Arti Keberanian
Catatan harian itu sampai kepada kita setelah dikemas menjadi buku. Kita berhadapan dengan huruf-huruf cetak, bukan tulisan tangan.
Pembaca tak harus menuntut bisa membaca edisi tulisan tangan bermaksud otentik.
Huruf-huruf cetak mencukupi bagi pembaca memasuki hari-hari Ahmad Wahib.
Buku itu kecil. Buku itu hijau. Pada saat cetak ulang, buku bertambah tebal.
Orang-orang mungkin berharapan mendapat cetakan pertama jika ingin menjadi kolektor.
Buku dicetak sederhana, tak ada kepentingan dibuat istimewa agar memenuhi selera kolektor lawasan.
Baca Juga: Begini Caranya Membangun Fondasi Pemerintah Tanpa Korupsi
Abad XX berlalu tapi kita masih mungkin mengunjungi dengan membaca tulisan-tulisan Ahmad Wahib.
Kita memilih membaca catatan bertanggal 18 Januari 1973. Ahmad Wahib sedang sedih.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (311)
Songwriters Festival 2024, Momentum Edukasi HKI bagi Pencipta Lagu
Review Buku: The Book of Lost Things, Menguak Arti Keberanian