Borobudur Meledak di Kanvas Sohieb: 9 Karya Dahsyat Digelar di Tugu Kunstkring Paleis

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Kamis, 10 Juli 2025 | 18:02 WIB
Samodra Raksa, 435 cm x 152 cm, Oil on Canvas, 2025
Samodra Raksa, 435 cm x 152 cm, Oil on Canvas, 2025

Menurut Pahrur dalam sambutan di katalog menyebut ”karya Sohieb tak merupakan hanya dekorasi. Namun lebih pada semacam konektor yang mengingatkan bahwa Borobudur dan lukisan relief-relief itu bukanlah sekedar candi Buddha terbesar di dunia. Tapi tak diragukan Borobudur sejatinya membawa pesan mahakarya dari kebijaksanaan Indonesia kuno.

Dibangun disekitar pada 824 Masehi, Borobudur adalah Magnum Opus ayah dan putri kesayangannya, Maharaja Samaratungga dan Putri Mahkota Pramodhawardhani yang berasal dari dinasti Syailendra dan memimpin Mataram kuno sebagai Kerajaan Budha terbesar di Pulau Jawa.

Sementara itu, jurnalis senior sekaligus pemerhati budaya, Roso Daras menyatakan Sohieb dalam melukis meskipun secara intuitif tak melakoni metodologis ilmiah. Namun, ia secara strategis membedah buku ”1460 Buku Pandu Relief Naratif Mahastupa Borobudur” setebal 704 halaman itu secara mendetail dengan menerapkan justru langkah-langkah khusus dalam kanvas-kanvas lukisannya.

Baca Juga: MOCA Singapura Gelar ‘A Path to Glory’: Legenda Sastra Silat dan Patung Kontemporer

“Sohieb telah sejak awal membuat persiapan, melewati upaya inkubasi, selain akhirnya menemukan pencerahan dan seterusnya verifikasi, persis teori-teori kajian seni penciptaan visual," kata Roso menerangkan.

“Sohieb memilih relief yang jadi andalan utamanya, yang diberi juluk Samodra Raksa. Menggambarkan makna makna penting, baik dalam konteks sejarah, budaya maupun spiritual tentang penjelajahan samudera. Sebagai bukti peradaban maritim yang sudah ada pada leluhur kita sejak berabad-abad lalu. “ ujarnya menambahkan.

Karya lainnya masih menurut Roso adalah Manohara, yang memancarkan kisah moral yang terpancar dari relief tersebut adalah kisah cinta antara Pangeran Sudhana dan bidadari Manohara yang penuh rintangan dan ujian. Kisah ini mengandung nilai-nilai moral tentang cinta, kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan.

“Secara singkat, kesembilan karya Sohieb Toyaroja pada hakikatnya adalah sebuah Kitab kehidupan, yang mana Umat Buddha bisa memaknainya sebagai ajaran Tripitaka. Umat beragama lain bisa menyandarkan pada kesamaan budi yang diajarkan kitabnya sendiri-sendiri," ujarnya menambahkan.

Baca Juga: Kefanaan, Ruang Batin yang Sunyi dari Widya Triana dalam Pameran ProGress di Neo Gallery

Lukisan-lukisan Sohieb, menantang kita dalam bahasa visual kuno, yang sebagian cendekiawan rupa membahasanya secara berbeda dengan cara bagaimana Barat memahami Candi di Timur.

Sohieb membawa kita megulik kembali apa yang disebut Wimba, sebuah konstruksi visual pemahaman bahasa khusus seni rupa Timur tentang wira rupa yang terabaikan sejak abad ke- 10 Masehi. Yang kemudian kita tahu, Borobudur ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles di abad ke-19 Masehi dan segala kekayaan visualnya.

Borobudur, sempat “hilang” selama hampir 900 tahun dalam lebatnya hutan belantara. Sekarang oleh Pelukis Sohieb digsali kembali medampingi pengetahuan para arkeolog, filolog dan sejarawan menemukan bahasa visual Timur di pameran ini. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
Lihat Semua

Terpopuler

X