TINEMU.COM - “Kau tidak perlu tanya. Jika kau tetap tidak mau menyadari kejahatanmu, maka aku adalah malaikat pencabut nyawamu!” sahut orang berkedok itu dengan tenang.
Yang Kian-pek menjadi murka, bentaknya, "Bagus, kau berani bermulut besar, aku menjadi ingin coba-coba kepandaianmu. Lihat saja nanti apakah kau mencabut nyawaku atau aku yang bikin jiwamu melayang!”
Baru selesai ucapannya, mendadak ia meloncat ke atas, dengan gerakan “Ngo-eng-bok-tho” (elang lapar menyambar kelinci), orangnya berikut pedangnya terus menusuk dari atas. Namun orang berkedok itu cepat menunduk sambil mengegos, berbareng ia sudah lolos pedangnya dan balas menyerang, kedua pedang kebentur, “trang”, Yang Kian-pek melayang ke samping, sedangkan orang berkedok mundur dua tindak.
Gebrakan pertama in boleh dikata sama kuat, tiada seorangpun menarik keuntungan. Tapi orang berkedok melolos pedang setelah lawan menyerang, maka kalau bicara kegesitan jelas ia lebih unggul daripada Yang Kian-pek.
Nyo Wan menjadi ragu-ragu dan heran menyaksikan pertarungan itu. Ia sedang mengingat-ingat kembali ilmu pedang orang berkedok ini, sebab ia merasa seperti pernah melihatnya. Tiba-tiba ia teringat, bukankah ilmu pedang yang dimainkan oleh Ci in-hong tempo hari.
Tempo hari, waktu Li Su-lam berebut Bengcu dengan Tun-ih Ciu, mendadak muncul Ci in-hong yang mewakilkan Li Su-lam untuk bertanding dengan jago pedang lawan Liu Tong-thian, pertandingan berakhir dengan seri, hal ini membikin para ksatria terheran-heran.
Nyo Wan sendiri berada di antara para penonton itu, kesannya cukup mendlam terhadap ilmu pedang Ci In-hong yang aneh dan hebat itu. Kini Nyo Wan menjadi ragu-ragu apakah orang berkedok ini adalah samaran Ci in-hong, tapi kalau mlihat perawakan dan suaranya terang tidak sama.
Belum habis berpikir, sekonyong-konyong terdengar Yang Kian-pek membentak, “Ci In-hong, kau jangan main sandiwara segala!”
Maklum, baik suara maupun perawakan, bila cara menyamarnya pintar juga dapat berubah, Yang Kian-pek sendiri adalah ahli dalam ilmu menyamar, maka ia anggap orang berkedok ini pasti Ci in-hong adanya.
Selagi Nyo Wan tertegun oleh gertakan Yang Kian-pek itu, tak terduga orang berkedok itu berbalik tanya, "Ci In-hong itu siapa?”
“Kau masih tidak mengaku!” jengek Yang Kian-pek terus menerjang pula, di bawah serangan pedangnya disertai pula pukulan yang dahsyat.
Orang itu menggunakan pedang untuk menangkis pedang dan tangan lainnya menghadapi pukulan, “blang.”
Yang Kian-pek berbalik tergetar mundur.
“Baik, apakah kau Ci In-hong atau bukan, yang pasti kau sengaja memusuhi aku, “ bentak Yang Kian-pek lagi.
Dalam addu pukulan tadi, yang digunakan kedua orang ternyata sama; ”Thian-lui-kang". Ilmu pukulan “Thian-lui-kang" adalah kepandaian khas perguruan Yang Kian-pek, hanya tokoh terkemuka perguruannya saja yang mahir menggunakan ilmu pukulan itu.