temu-serasi

Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (211)

Senin, 9 Oktober 2023 | 09:00 WIB
COVER CERBUNG (Playground AI x Stable XL)

TINEMU.COM - “Aku memang ingin mencari tahu seluk beluk tentang diri Ci In-hong, kemarin karena aku hendak mencari dia, makanya salah kuntit. Cuma pada waktu ini aku belum dapat pergi ke Long-sia-san. Kupikir Ci In-hong dan nona Beng juga belum pasti akan kembali ke sana.”

Orang itu manggut-manggut, katanya, “Banyak terima kasih atas keterangan-keteranganmu, nona Nyo. Kukira sudah waktunya aku harus berangkat. Sampai berjumpa pula kelak.”

Tiba-tiba Akai mendekati orang itu, katanya, “Sungguh aku sangat senang dapat bersahabat dengan kau, bila sudi, haraplah kau suka menerima sedikit tanda terima kasihku ini.”

Ternyata Akai telah menyerahkan saputangan sutera putih. Orang berkedok itu tahu apa yang dimaksudkan Akai itu adalah suatu adat istiadat orang Mongol, memberi tanda mata saputangan disebut “mempersembahkan harta” yaitu suatu tanda hormat dan penghargaan terhadap kawan karib.

Maka dengan tulus orang berkedok itupun menjawab, “Kau adalah sahabat Mongol pertama bagiku, sudah tentu aku pun sangat senang mempunyai kawan segagah kau. Cuma sangat menyesal,aku tidak punya hadiah apa-apa yang dapat kuberikan padamu.”

Habis itu, sesuai dengan adat Mongol, ia menerima saputangan itu sambil berpelukan dengan Akai. Tapi mendadak orang berkedok itu lantas berseru, ‘He, apa yang kau lakukan?” Berbareng itu ia mendorong pergi Akai yang dipeluknya itu.

Kiranya pada waktu mereka berpelukan, sekonyong-konyong Akai menarik kedok orang itu. Sama sekali tak terduga oleh siapapun juga bahwa Akai yang ketolol-tololan itu dapat berbuat
demikian secara mendadak.

Setelah kedok terbuka, terdengar Kalusi dan Minghui menjerit kaget berbareng. Akai juga melongo terkejut. Hanya Nyo Wan saja yang tiak berteriak kaget, tapi demi melihat wajah asli orang itu, mau tak mau ia merasa ngeri juga.

Betapa jelek muka orang itu sungguh di luar dugaan siapapun juga. Pada wajah orang itu tertampak beberapa jalur bekas luka yang malang melintang mirip simpang empat dari jalan kereta api. Lantaran bekas luka itu benjal benjol tidak rata, maka kulit daging pada mukanya juga berkerutan di sanasini, begitu buruk mukanya hingga terasa seram bagi siapapun yang melihatnya.

Semula Nyo Wan masih rada menyangsikan dia adalah amaran Ci In-hong, tapi sekarang setelah melihat wajahnya, yakinlah dia dugaannya tadi tidak betul. Berbareng Nyo Wan juga paham apa sebabnya orang memakai kain kedok.

“Rupanya dia kuatir menakuti orang lain dan bukan sengaja merahasiakan wajah sendiri bagi Yang Kian-pek,” demikian pikir Nyo Wan.

Setelah terdorong mundur, Akai tertegun sekian lamanya, kemudian baru berkata dengan tergagap-gagp, "Ma .....maaf, aku.......aku tidak tahu, tidak tahu sebab cara bersahabat orang
Mongol kami memang ........ memang begini dan ...........”

Dia memang tidak pandai bicara, maka kini ia tambah bingung entah cara bagaimana baru dapat menunjukkan rasa menyesalnya.

Rupanya Akai berjiwa polos dan berpikiran sederhana, ia beranggapan kalau sudah bersahabat masakah tak boleh mengetahui bagaimana wajah asli sang kawan. Terhadap musuh boleh merahasiakan muka sendiri, terhadap sahabat tentunya tidak perlu. Begitu saking senangnya mendapat sahabat baru, berdasarkan jalan pikiran sendiri itulah Akai terus menarik kedok orang.

Ternyata orang berkedok itupun tidak marah, dengan tersenyum getir ia berkata, “Tidak apa-apa, aku tidak menyalahkan kau. Padahal buat apa kau harus malu pada kejelekan sendiri? Wajahku yang begini bukanlah pembawaan sejak lahir, tapi kalau sekarang sudah berubah begini, apa halangannya diperlihatkan kepada orang lain? Nah, Akai apakah kau takut kepada wajahku yang jelek ini?”

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB