Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (206)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Rabu, 4 Oktober 2023 | 09:00 WIB
COVER CERBUNG  (Playground AI x Stable XL)
COVER CERBUNG (Playground AI x Stable XL)

TINEMU.COM - Dilihatnya orang berkedok itu menyeret bangun Busa, dengan cepat membuka Hiat-to yang tertotok Li Su-lam tadi. Orang dapat membuka totokan Li Su-lam yang khas itu, hal ini membuat Nyo Wan terheran-heran. Bahkan sesudah itu orang berkedok itu lantas tinggal pergi sebelum Busa sempat mengucapkan terima kasih padanya.

Kemudian sesudah Li Su-lam dan Bing-sia mengalahkan Yang Kian-pek, mereka menjadi heran dan bingung karena Busa sudah melarikan diri, siapa yang membuka hiat-to orang Mongol itu tidak diketahui mereka. Teka teki ini hanya Nyo Wan saja yang tahu, tapi juga tidak jelas seluruhnya, sebab ia sendiri tidak tahu hubungan apa antara orang berkedok itu dengan Busa. Jika suatu komplotan, pantasnya tidak lantas tinggal pergi setelah menolongnya. Tapi apapun juga dia adalah penolong Busa, seumpama bukan sekomplotan, tentu juga satu haluan. Dan kini orang yang baru datang ini adalah orang berkedok yang dilihat Nyo Wan dahulu itu.

Sebenarnya Nyo Wan menaruh harapan semoga yang datang ini adalah kaum ksatria, siapa tahu yang datang kembali adalah musuh. Keruan Nyo Wan sangat kecewa dan cemas. Dalam pada itu terdengar Busa telah berseru dengan girang, "Hei, bukankah engkau adalah tuan penolongku tempo hari itu? Terima kasih atas pertolonganmu.”

“Persetan kau,” tiba-tiba orang berkedok itu mendamprat dengan nada sepat. Keruan ucapan ini membikin kaget kedua pihak. Dengan heran Busa berkata pula, "He, mengapa tuan penolong....“ Belum lenyap suaranya mendadak orang itu mencengkeram Busa terus dilemparkan keluar kelenteng seperti lempar bola saja.

“Kau tidak mau enyah, biar kuenyahkan kau!” kata orang itu dengan dingin.

Perubahan hebat ini sama sekali diluar dugaan orang banyak. Ho Kiu-kong dan istrinya berdiri di sebelah Busa, tapi mereka toh tidak keburu menolongnya. Dengan terkejut Ho Kiu-kong lantas membentak, "Keparat darimana kau, berani menyakiti orang?”

Segera cambuknya menyabet.

Orang berkedok itu ternyata tidak berkelit dan tidak menghindar, ketika cambuk Ho Kiu-kong menyambar tiba, dengan gerakan “Yu-liong-tam-jiau” (naga meluncur main cakar), dua jarinya mendadak menjepit seperti gunting tajamnya, “cret”, tahu-tahu cambuk Ho kiu-kong itu telah dipotong menjadi dua bagian.

Dalam pada itu dengan cepat sekali tongkat Ho-popoh juga lantas mengemplang dari depan. “Hm, pasangan suami istri bangsat seperti kalian ini juga lekas enyah saja dari sini!” jengek orang berkedok. Berbareng itu dengan cepat luar biasa, bagaimana caranya sampai Ho-popoh sendiri tidak jelas, tahu-tahu tongkatnya sudah dirampas oleh lawan.

Ketika orang berkedok itu menggertak sekali, tertampak tongkat rampasan itu sudah menancap ke dalam tanah, hampir-hampir masuk seluruh batang tongkat itu. Keruan sukma Ho Kiu-kong dan istrinya hampir terbang ke awang-awang saking kagetnya, tanpa pamit lagi mereka terus kabur menyelamatkan diri.

“Sungguh perkasa!” puji Akai setelah menyimpan kembali talinya yang tinggal separuh itu.

“Kau sanggup satu lawan tiga, kau juga sangat perkasa!” balas orang berkedok itu dengan tersenyum.

Dalam sekejap saja orang berkedok itu telah melemparkan orang, memotong cambuk dan merampas tongkat, berturut-turut tiga jagoan kena dibikin keok, betapa tinggi ilmu silatnya membikin Yang Kian-pek rada terkejut juga. Tapi keadaan Nyo Wan dan Akai kini sudah sangat payah, asalkan dia mampu mengalahkan orang berkedok itu, kemenangan tetap akan di pihaknya, sebab itu meski rada terkejut ia tetap ingin mempertahankan kemenangannya itu.

Kemudian orang berkedok itu berpaling dan menatap Yang Kian-pek dengan sinar mata yang tajam, katanya, "Perbuatanmu yang kotor dan rendah, apakah kau tidak khawatir menodai nama baik perguruan?”

Di balik ucapannya itu seakan-akan dia sudah tahu jelas perbuatan cabul Yang Kian-pek yang banyak memperkosa gadis-gadis itu. Tergetar juga hati Yang Kian-pek.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X