TINEMU.COM - Masa lalu buku bukan melulu milik penulis. Kita menduga penulis malah sudah lupa dengan isi buku. Ia masih mungkin mengingat judul tapi kesusahan memberi penjelasan isi berdasarkan ingatan-ingatan.
Buku telah terbit, penulis memilih membuat tulisan-tulisan lagi. Hari-hari berganti, tulisan-tulisan terus bertambah untuk terbit menjadi buku-buku.
Buku dari masa lalu kadang terawetkan melalui resensi. Buku mungkin sudah susah dicari di pasar buku bekas dan perpustakaan. Ingatan atas buku tetap terawat bila menemukan resensi-resensi dimuat di koran atau majalah.
Resensi menjadi sejenis siasat dokumentasi sebelum buku-buku masa lalu makin langka.
Sekian buku Emha Ainun Nadjib masih sering cetak ulang meski beda penerbit. Sekian buku awal sulit ditemukan di pasar buku. Buku mungkin masih berhasil ditemukan tapi dihargai mahal. Buku-buku sering cetak ulang kadang dijual dengan harga murah.
Baca Juga: Nasihat (Berbahasa) Jawa
Nasib buku-buku Emha Ainun Nadjib berbeda di hadapan pedagang, pembaca, dan kolektor. Dulu, buku pun menjadi sasaran bagi orang-orang mengajukan penilaian dengan tulisan dinamakan resensi.
Buku berjudul Oples (Opini Plesetan) diterbitkan Mizan (1995) masih mudah diperoleh di pasar buku bekas. Buku telah lama berlalu tapi memberi kesan untuk para pembaca pernah mengalami situasi politik-kultural pada masa Orde Baru.
Buku merekam zaman. Kini, buku itu membawakan masa lalu meski cara membaca sudah berbeda. Keinginan bertemu buku lagi bakal “akrab” jika mengikuti resensi-resensi pernah terbit di koran dan majalah.
Di majalah Gatra, 23 September 1995, resensi sehalaman berjudul “Dan Emha Juga Terperangkap”. Resensi oleh Jamal D Rahman. Ia biasa diakrabi pembaca dengan puisi-puisi meski turut menekuni studi-studi Islam.
Resensi dimulai dengan paragraf mengenalkan (ulang) Emha Ainun Nadjib dalam pemikiran dan kejadian. Jamal D Rahman menulis: ‘Hasilnya adalah sebuah gaya yang khas: tajam, nakal, jenaka, tak terduga, menyudutkan, dan menggemaskan juga – sambil berusaha menarik ‘garis putih’ dari benang kusut realitas sosial-politik-ekonomi-budaya yang dilihatnya.” Pada masa lalu, Emha Ainun Nadjib memang seru dan lucu. Ia mengajak tertawa sambil memikirkan hal-hal (tak) biasa.
Baca Juga: Anda Pengguna Apple Watch? Ikuti Tantangan 'The Fit Squad’ Berhadiah iPhone 14 Pro
Dulu, Emha Ainun Nadjib itu “masalah” di mata rezim Orde Baru. Sosok rajin menulis dan berceramah itu memiliki keberanian saat tatanan hidup di Indonesia diminta tertib, tenang, dan terkendali. “Lucu” justru menjadi perlawanan. Pada masa lalu, “lucu” bisa dihasilkan dari plesetan.
Pujian tetap diberikan Jamal D Rahman atas opini-opini Emha Ainun Nadjib mula-mula dimuat di tabloid DeTik. Pujian berlatar situasi Orde Baru: “Ia seolah menjadi personifikasi yang sangat definitif bagi keberanian sejarah di tengah kawah sosial yang menggelegak. Ia melihat persoalan masyarakat dengan mata hati mereka sendiri.”
Emha Ainun Nadjib sanggup cerewet di koran, majalah, mimbar, panggung, dan ruang seminar. Ia dimengerti keberanian dan kesanggupan menanggung risiko: dari iman sampai kekuasaan.
Artikel Terkait
Resensi Buku: Ketakjuban Sepak Bola
IJ Kasimo: Berita, Iklan, Buku
B Rahmanto: Nama dan Buku
Kalender dan Buku Tulis
Nyanyikan Lagu ‘Mangku Buku’, Farel Prayoga Ajak Anak Indonesia untuk Tingkatkan Prestasi
Buku: Penerjemah dan Waktu